Engkau Ada

Sungguh tak pernah kusangka sebelumnya, bukan berarti aku tidak pernah menduganya sebelum ini. Hanya saja ternyata rasanya tetap membuatku berdebar dan perutku bergejolak sakit. Rasanya seperti meluncur dari ketinggian yang begitu curam, kucoba mengerjapkan mataku, menahan segala rasa frustasi yang aku rasakan malam ini. Ah… bram akhirnya setelah sekian tahun keberadaan mu di sisiku, semua uluran tangan yang kau berikan padaku tiba juga hari ini, hari di mana kau menagih semua janji, bukan berarti aku pernah menjajikan apapun padamu. Hanya saja kediamanku selama ini membuatmu berfikir sebaliknya.

 

“Menikahlah dengan ku” hanya kata itu yang terdengar jelas di telingaku. Suara jangkrik dan desau angin yang sebelumnya bisa aku rasakan tiba-tiba lenyap dari pendengaranku. Bahkan segala macam alasan, prinsip dan ungkapan-ungkapan yang mengikuti kata-kata itu pun tidak bisa aku tangkap dengan jelas. Yah.. lagi-lagi aku hanya membisu “harusnya kau tau bram” hanya itu yg bisa ku ungkapkan padamu sambil berbisik. Seketika itu juga aku bisa melihat redupnya cahaya di matamu, aku tau apa yang akan kau katakan padaku sesudahnya. Kau sudah terlalu sering mengatakan hal yang sama kepadaku, sejak tahun-tahun pertamamu di sisiku. Aku tau karena aku bodoh.

 

Ah, mata itu. Mata yang menatapku sepuluh tahun yang lalu, mata yang mengingatkan ku akan kehancuran diriku. Entah kenapa hanya matamu yang bisa mengingatkan semuanya lagi sekarang, hanya dengan melihat matamu aku akan merakan sebagian diriku yang telah mati terkubur. Aku tau wajahku memucat, aku bisa merasakannya dari getaran suaramu yang perlahan-lahan berhenti. Kau terlalu baik hati, taukah engkau bram? Setelah sekian tahun aku menyakitimu, sekian tahun aku menyia-nyiakan keberadaanmu di sampingku, sekali lagi karena kebodohan-kebodohannku, kau tetap berbuat baik kepadaku, selalu menopangku, selalu menjadi tempatku bersadar.

 

Yah.. kau memang terlalu baik, bahkan pada saat orang tuamu memberimu seorang pendamping yang begitu baikpun kau tidak bergeming. Kau selalu mengutamakan kepentinganku, hanya karena aku sedikit masuk angin dan salah makan kau melewatkan hari terbesar dalam hidupmu, membuat malu seluruh keluarga besarmu, hanya untuk mengantarkan aku ke rumah sakit terdekat malam itu. Seperti kata semua keluargaku, teman-temanku, kau telah mengorbankan banyak hal untukku. Bahkan masa depanmu pun kau pertaruhkan demi aku. Promosi jabatan yang di tawarkan atasanmu di Jerman pun tidak kau gubris “aku akan sangat merindukan rona merah di pipimu nanti” kelakarmu padaku saat itu. Padahal Jerman adalah Negara tujuanmu kan bram?

 

Lantas apakah semua itu pantas aku dapatkan? Setelah sekian banyak pengobananmu dan ketidak egoisanmu padaku? Haruskah aku menjawab “ya, karena aku juga mencintaimu” saat ini? Bibirku terkatup, lidahku kelu, tenggorokkan ku terasa terbakar. Otakku memintaku, memohon agar bibirku agak terbuka, agar pita suaraku bergetar dan mengatakan “ya” setidaknya satu kata yang terdiri dari dua huruf itu dan semuanya selesai. Karena aku pasti akan melihat cahaya itu lagi di matamu, senyum tersungging di bibirmu bahkan mungkin aku akan melihat kebahagiaan yang selama ini sirna dari wajahmu. Kucoba mengisi rongga dadaku dengan oksigen yang tanpa terasa telah aku lupakan beberapa waktu lalu.

 

Kau menatapku kembali, dan sungguh aku tak sanggup melihat kedalam kegelapan bola matamu itu bram, taukan engkau? Aku tak sanggup melihat seberkas saja kepedihan di matamu apalagi kalau kepedihan itu di sebabkan olehku. Sering aku berharap bisa sedikit saja meringankan beban di kedua pudakmu, meluruskan kerutan di antara kedua alismu dan seharusnya memang sudah aku lakukan sejak tadi, jauh sebelum keheningan mencekam kita berdua. Tapi hati ini tidak mau bekerja sama, bibir ini tetap terkunci, lidah ini tetap kelu.

 

“Apakah sepuluh tahun tidak cukup untukku? apakah selamanya aku takkan bisa mencairkan hatimu yang membeku freya?” aku tercengang dengan perkataanmu, aku sudah menduga kau akan mengatakannya bram, tanpa terasa air mataku menetes di kedua mataku. Dan sekali lagi aku melihat kesakitan di wajahmu, kau akan selalu merasa kesakitan setiap kali melihat air mata di wajahku dan itu akan semakin membuatku merasa amat bersalah kepadamu. “ku mohon fry, jangan hanya membisu kau tau hari ini akan tiba juga kan?” imbuhmu padaku. Pecah sudah tangis yang sedang kubendung, isak pelan mengisi malam yang sepi. Kau terdiam dan bangkit berdiri, seraya berbisik di telingaku “aku tau apa jawabanmu, maafkan aku” menggenggam tanganku sekilas dan pergi meninggalkan ku dengan kesendirianku.

 

Belum apa-apa aku sudah merindukanmu bram, entah bagaimana hari esok tanpa dirimu, entah bagaimana aku harus menghadapi matahari pagi besok pagi, entah bagaimana aku bisa tetap berjalan dengan kedua kakiku nanti, entah bagaimana aku bisa bernafas tanpamu. Karena kau adalah matahariku, penopang hidupku, udara di sekelilingku. Punggungmu sudah hilang dari hadapanku, meninggalkan wangi tubuhmu di sekitarku tapi satu keyakinan yang tetap tertanam di hatiku selamanya.. karena engkau tau bahwa aku tau kalau engkau ada.

 

Advertisements

11 Comments

  1. shun said,

    February 3, 2009 at 4:35 am

    wah, ini mau dipake buat tulisan2 ies ya

    seep, emang sebaiknya gitu, ada blog personal sama blog khusus tulisan 🙂

    semangat ya…. ganbatte kudasai..

    ies : iyeeee….. sering2 mampir yah…
    sankyu… ^_^

  2. Wong Solo said,

    February 3, 2009 at 4:43 am

    kayak cerpen di majalah kartini, :))

    “kucoba mengerjapkan mataku” —-> salah ketik, atau aku yang gak ngerti maksudnya ?

    ending nya blm jelas is, berseri ya?

    ies : haduh…… umum banget temanya ya? masih belajar ni 😛
    mengerjapkan = merem iya bukan si ? hehehe
    ending terserah pembaca 😛

  3. mer majesty said,

    February 4, 2009 at 4:35 am

    rangakaian kata-katanya bagus….ceritanya ringan…konflik batin yah ngena….*hampir nangis tadi pas baca beberapa kata, inget seseorang*

    boleh kritik gak? hehehe
    penulisan nama wajib menggunakan huruf besar di depan. bukan bram tapi Bram, bukan fry tapi Fry….:P

    hmmmm Bram itu koq mirip Jake yah… *halah*

    ies : sankyu kritikannya mer, masih belajar pasti masih banyak yg salah deh.. makasih.. makasih… ^_^

    aih.. bram kok jake si? jake kan egois 😛

  4. deen_deen said,

    February 4, 2009 at 8:26 am

    waks… ies nulis nihhhh
    ceritanya mellow bgt.. boleh request ga ies.. minta cerita yg lucu2 dong…
    tp secara keseluruhan ceritanya bagus kok…
    *tp knp nama bram bnyk bgt dipke di cerita2 ce, apakah nama bram itu melambangkan co yg sekseh?*

    ies : itulah den, aku cuma bisa nulis yg sedih2.. aku blm bisa berhasil nulis yg kocak ni.. nanti aku coba deh kapan2 😛

    bram ? hahahaha.. terlintas nama itu aja pas lagi nulis, mungkin si.. sekseh… huahaha

  5. Prabu Kirana said,

    February 4, 2009 at 9:18 am

    bagus, tapi masih bikin penasaran tentang alur ceritanya

    ies : alur ceritanya emang kenapa? pembaca menyimpulkan sendiri lah 😛

  6. February 4, 2009 at 10:20 am

    Nice post. Keep writing, is.

    ies : bingung mau komen apa ya? hehehe

  7. hanif said,

    February 6, 2009 at 7:38 am

    Tulisanmu bagus untuk ukuran novel is. Aku tunggu novel jadinya ya
    Main ke bloggku juga ya

    Ies : hehehehe……. terimakasih bud, aku jadi ngga enak.. InsyaAllah ntar main deh ^_^

  8. dai said,

    February 11, 2009 at 8:05 am

    Lah aq dah baca duluan nih tulisan. kan kamu sendiri yang datang pada diriqu untuk minta pendapat setela selesai di tulis.

    He,,he,,he,,

    Terus nulis deh. hitung-hitung belajar buat nyusun skripsinya.

    ies : emang iya ya?? kapan dai??
    aku kok lupa hahaha…
    seeep ;), makasih dah mau komen 😛

  9. adif said,

    February 11, 2009 at 8:33 am

    asli tulisan mu bagus walau pun agak mellow sich (gak suka yang mellow)
    tapi aku sudah bisa bayangin gimana perasaan Bram n gimana perasaan Frya
    sering” beriklan yach hehe

    Ies : hehehee…. lebay abis, mellow… tragis…
    aku blm bisa nulis genre lain dif 😛

  10. mer said,

    February 26, 2009 at 6:50 am

    aku bilang bram mirip jake karena pengorbanan cinta nya….
    yang egois mah ed donk wakakakaka

    *antiedwardcullen.com*

    Ies : salah mer.. kl jake ngga bakalan cuma diem n pergi, dia pasti marah2 dulu deh.. n jadi werewolf
    ini edward bangettt…. ngalah demi kebaikan ce nya
    *kekehsbgedwardlover*

  11. beth said,

    March 13, 2009 at 12:40 am

    two thumbs up is!
    esih kurang?
    ki…jempol sikil!!
    he2..
    (kapan aku bisa kayak kamu?) –awas njeblug!–

    Ies : aku melambung tinggg…. terbang ke awan2 dan teriakkk… “SAKIT” nabrak pesawat soalnya [lol] [lol]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: