Ketika Hujanpun Turun

Hembusan angin menerpa wajahku, ah.. dingin sekali udara sore ini pikirku. Seperti yang sudah-sudah aku kembali terpaku ke layar monitor computer kantorku. Sebentar lagi waktu menunjukkan pukul lima sore, dan itu juga berarti waktunya pulang ke rumah. Kembali ke peraduanku lagi. Rumah.. ah sungguh berbeda arti kata itu sekarang bagiku. Ku arahkan pandangan ke sekililingku saat ini, semua orang sedang bersiap-siap menutup file dan mematikan computer, beberapa orang bahkan sudah memakai jaket dan memegang tas masing-masing.

 

Sungguh ironi mengatakan arti sebuah rumah saat ini untukku. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun demi tahun yang aku lewati berharap arti sebuah rumah sesuai dengan impian masa mudaku dulu. Masa di mana aku masih penuh dengan ide dan keoptimisan, penuh dengan gagasan dan pandangan jauh ke depan masa yang membawaku melewati indahnya dunia. Aku coba menutup ingatanku tentang masa itu akhir-akhir ini. Kumatikan komputerku, dan berjalan menuju toilet wanita di pojok ruangan yang boleh terbilang elite. Kubasuh tanganku, dan kutatap pantulan wajahku di cermin datar kamar mandi. Ah… wajahku masih sama, masih sesegar dulu, tentu saja aku mendapatkan itu tidak dengan Cuma-Cuma boleh di bilang aku menghabiskan banyak dana untuk membuat wajahku terlihat jauh lebih muda dan jauh lebih cantik untuk ukuran wanita seumurku.

 

Ku tatap wajahku sekali lagi, ada satu yang terlewat oleh dokter kulit terkemuka di Negara ini, ah ada perbedaan di sana, ada satu hal yang hilang dalam wajahku. Ruh.. yah.. aku kehilangan ruh yang mengisi nyawa di wajahku. Tidak ada binar kegembiraan di wajahku, tidak ada rona merah di pipiku lagi dan tak ada senyum itu lagi. Hanya ada kegetiran dan bayangan hitam samar di bawah kelopak mataku. Sudah berapa lama aku tidak tidur? Sudah berapa lama aku habiskan waktu malamku dengan duduk di depan jendela kamarku? Menanti sang fajar membawa sebuah kabar gembira untukku, menanti sang mentari membawakan secercah cahayanya dalam hidupku atau setidaknya membangunkan alam bawah sadarku. Haaaahhh…. Sudah tak terhitung rupanya.

 

Ku tinggalkan toilet perempuan itu, ku ambil tasku dan berjalan menuju lift terdekat. Sampai di lantai dasar senyum tersungging di wajah satpam kantorku, akupun membalas senyumannya. Aaahh… pikiranku melayang, Anto itu nama satpam yang menyapaku dengan senyum barusan. Malam yang dingin ini akan dia habiskan untuk berjaga di sini, demi semua keluarga dan anak istrinya yang menunggunya di rumah. Sementara aku, untuk apa aku pulang? Sungguh tidak adil hidup ini bukan? Seharusnya Anto pulang dan aku yang menunggu di kantor malam ini atau malam-malam selanjutnya toh untuk apa aku pulang?

 

Hanya akan ada kehampaan di sana, tembok-tembok dingin yang terasa menghimpitku, segala macam fasilitas rumah yang terbilang canggih pun tidak mampu meredam kesendirian dan kegelisahanku. Obat penenang dari dokter pribadiku malah menjadikan ku semakin kesakitan setiap kali aku membuka mata, mengetahui aku sendirian di rumah sebesar itu jadi lebih baik aku tetap terjaga dan merasakan setiap tarikan kesakitan yang menerpa hatiku.

 

Ku hentikan mobilku di depan pagar tinggi dan tembok bercat putih itu. Rumah masa depan, kami menyebutnya demikian delapan tahun yang lalu. Rumah yang luas dengan halaman yang tidak kalah luasnya, tempat anak-anak bisa bisa berlarian bebas sebebas angin, bahkan kami memiliki tempat khusus untuk acara barbeque setiap minggu sore. Kami bisa mengundang ibu dan ayahku, mertuaku, seluruh keluarga besar kami dan tidak lupa sepupu-sepupu yang bisa menemani anak-anak kami berlarian sepanjang kolam renang atau arena bermain pasir yang sudah kami siapkan. Tentu saja itu hanyalah angan-angan semu kami semata.

 

Delapan tahun itu kami, terutama aku menunggu kehadiran malaikat-malaikat kecil berambut ikal, bermata bulat dan berbulu mata panjang dan berpipi tembem untuk mengisi kekosongan yang ada. Delapan tahun kami berusaha, bersabar, segala macam pengobatan, dari dokter lokal sampai keluar negeri, dari pengobatan medis sampai alternative tidak ada perubahan yang terjadi. Tetap tidak ada tangis ataupun tawa yang mengisi rumah besar bercat putih itu.

 

Dan sekarang sudah lebih dari tiga bulan Mas Hans resmi pindah dari rumah kami, atau rumah ku saat ini. Keputusan hakim menyatakan bahwa rumah itu berhak aku miliki dan Mas Hans pun sepertinya tidak keberatan dengan keputusan itu. “Aku tidak mau terus bersamamu karena aku takut sendiri mas, dan kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari ini” itu kata-kata yang aku ungkapkan kepada belahan hatiku, orang yang mengisi hidupku selama sepuluh tahun belakangan ketika surat cerai aku ajukan kepadanya. Apakah aku egois? Aku hanya tidak ingin dia ikut menderita bersamaku, dia seribukali lebih berhak bahagia dari pada aku.

 

Rintik gerimis menyadarkanku dari lamunan panjang, tergesa-gesa aku memasukkan mobil kegarasi dan memasuki ruangan gelap ini, terror kehidupanku. Haruskah aku pindah dari sini? Dan merelakan keluarga lain mengisinya dengan tawa dan tangis malaikat-malaikat kecilnya? Sungguh relakah aku?. Kembali aku duduk diam di bawah jendela besar itu, hujan semakin menderas di luar sana. Mungkin memang sudah saat nya aku menghapus jejak-jejak kehidupan, sudah seharusnya aku kembali ke kehidupanku. Berharap hujan akan membawa jejak-jejak yang sudah berlalu, ku tutup tirai jendela besar itu dan merebahkan diri di tempat tidurku. Kuberbisik “aku ingin tidur” dan demi Tuhan hanya itu saja yang aku inginkan….

“Wahai Tuhan, jangan bilang lagi, itupun terlalu tinggi”

 

Jakarta, 10.52 PM

 

 

Advertisements

13 Comments

  1. Wong Solo said,

    February 9, 2009 at 3:09 am

    “Aku tidak mau terus bersamamu karena aku takut sendiri mas, dan kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari ini”

    Bingung ama penggalan kalimat pertama di atas.
    seperti kalimat “aku mau makan karena aku tidak lapar”, bingung ngga?

    mungkin sebaiknya

    “Aku mau terus bersamamu karena aku takut sendiri mas, tetapi kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari ini”

    Ies : bukan wan… bener yg aku di atas, si tokoh aku ini tidak mau bersama hans hanya karena dia takut sendiri..
    maksdku gitu… hiks ngga mudeng ya?

  2. shun said,

    February 9, 2009 at 3:42 am

    mungkin maksudnya, si tokoh wanita takut kl dia tetep bareng mas han, suatu saat dia akan di tinggal.

    jd dr pada di tinggal mending dia memutuskan hubungan, agar bisa dpt yang lain? 😀

    ies : bukan taka… dia pengen si hans mendapatkan sesuatu yg jauh lebih baik dari pada sama tokoh aku ini..
    << aaaiiihhh… keliatannya ambigu banget ya?

  3. February 9, 2009 at 4:42 am

    “Wahai Tuhan, jangan bilang lagi, itupun terlalu tinggi”
    *emang Tuhan ngomong apa, is?*

    But the end, it’s nica story.

    ies : kan dia dah minta terlalu banyak selama 8th itu.. dan dia merasa permintaannya terlalu tinggi
    aduhh.. kok ngga pada ngeh si 😦

  4. deendeen said,

    February 9, 2009 at 8:13 am

    Is.. bc tulisan mu bwt gw miris
    smbil bc gw selau berdoa dlm ati jgn deh smpe kek gitu..
    hikhikhik..
    apakah keturunan merupakan faktor terpenting dlm membentuk keluarga?

    ies : amin.. amin.. den, waaahh.. kok kamu ngerasa kaya gitu si say? ini kan cuma tulisan..
    tiba2 saja otakku mengarah ke sini, tadinya bukan kaya gini 😛

  5. mercakep said,

    February 9, 2009 at 8:39 am

    akuuuuuuu *nunjuk tangan*

    aku ngerti koq bu guru 😀

    laki-laki memang kurang peka, baca aja salah nangkep semua [hammer]
    *digampar semuanya*

    cerita yang bagus as usual
    sayang tokohnya tokoh dramatik, sehingga dia korban dari kesalahannya sendiri…..>.<

    Ies : bagus.. bagus.. mer murid yg pintar [lol]
    emang ni mereka pada ngga peka 😛 *ikutan di gebug deh 😛

    emang ya? kok selalu dramatik si.. hiks
    aku jg bingung 😛

  6. Ale said,

    February 10, 2009 at 7:24 am

    Hm…. gmn yah??
    Mungkin karena lo cewek kali….. makanya ga pengen jauh2 dari keluarga.
    Tp kl gw seh deuh……..ogah ah dekat2 ma keluarga. Ntar ketauan gw sering ngapa2in. Kan ga enak jadinya. Wekekekekeke…..

    Tp ntar klo dah merit, kudu ngikut suami ye ke mana2 aja. dubai misalnya?? [rollingeyes]. Hehehehehe……

    ies : ale yg baik *perutku bergejolak ngomong nya 😛
    kenapa dari dulu selalu dubai si? aku pengen ke jerman, jd ketemu di airport aja deh kwkwkw

    kok jd bukan bahas tulisanku gini ya?

  7. Ale said,

    February 10, 2009 at 10:19 am

    Yo wes, maunya ke mana?? Yang penting di luar pulau jawa ye…. Wakakakakakaak….

    Ies : haduh.. haduh mas, kok jadi ngejunk ya? kwkwkw
    dasar rasis… km jg dah berthn2 di pulau jawa ttp idup to??
    lagian aku kan jawa 😛

  8. dai said,

    February 11, 2009 at 8:21 am

    @Ale
    emang ada apa dengan jawa le?

    @mercakep
    Idem. Laki-laki emang kurang peka mer. tapi mungkin lebih baik lagi kalaw sedari awal kita mengatakan maksud kita secara langsung dan tidak berbelit-belit.

    @Untuk penulis
    Alur nya agak berbelit-belit jadi untuk mengerti arah ceritanya agak lama. Dan di butuhkan penerapan sisi kewanitaan yang peka untuk bisa mengerti.
    Tapi tema nya boleh juga tuh. Tentang perkawinan.

    ies : wah… kl to the poin ngga asik dong dai..
    aku suka gayanya dee, kata esti agak mirip dia tulisannya, pembaca menyimpulkan sendiri 😛

  9. dai said,

    February 11, 2009 at 8:24 am

    Ooopsss… ada yang lupa nilai plus nya lagi untuk tulisan ini ada kata-kata rintik gerimis. Karena aq suka apapun yang berbau gerimis dan hujan.

    Pencinta hujan sejati.

    ies : gerimis = dia ya? paham.. paham [lol][lol]

  10. gio said,

    February 11, 2009 at 8:33 am

    cerita yg bagus(bohong demi keselamatan hee2)

    ies : yeah.. yeah….. yeah.. *kaya lagunya DBSK*
    hehehehe… makasih mas 😛

  11. adif said,

    February 11, 2009 at 9:08 am

    co emang dari mars n ce dari venus kalee yach jadi gak mudeng hehe

    klo wa sich nangkepnya

    bodoh amat sich si co ama ce
    masa gara” gak bisa punya malaikat kecil trus cerai <—gak punya komitmen neeh

    si ce juga masa sich pasrah
    “Aku tidak mau terus bersamamu karena aku takut sendiri mas, dan kamu layak mendapatkan yang lebih baik dari ini”<—payah neeh

    si co

    masa mo ninggalin si ce sich emangnya salah dia klo si ce gak bisa punya malaikat kecil

    kan maseh ada jalan keluar yang laen

    (kok wa jadi marah” gini yach)

    ies : analisa yg bagus sodara adif…
    kalau di dunia nyata ya emang gitu, aku jg ngga mau nyerahin mas hans begitu saja kwkwkwkw…
    ini kan di novel, so yah… tragis 😛

  12. Prabu Kirana said,

    February 11, 2009 at 9:39 am

    Emang si co sama si ce waktu nikah dulu dasarnya apa sih ?

    cinta atau keterpaksaan? susah, senang harus dihadapi bersama.

    baru di uji gak punya malaikat kecil aja langsung pisah apalagi ada ujian yang lain, aku rasa dari awal gak rukun rumah tangganya tuh

    (jadi emosi nih……)

    tapi tetap aku angkat 2 jempol buat Pengetiknya (kan diketik bukan ditulis he…he…)

    ies : makasih dah komen..
    ternyata temanya cukup kontraversi 😛
    makasih pujiannya *jadi malu [kungfu]

  13. bocahcilik said,

    May 14, 2009 at 1:48 am

    apa maksudnya itu, si tokoh itu nggak mau bersama hans hanya karena dia tak mau sendiri?
    jadi dia baru mau bersama hans kalau pakai alasan lain, misal, karena emang cinta?

    apa emang butuh alesan?


    Ies : segala hal butuh alasan, motive, sebab.. tanpa itu aku rasa ngga akan bisa..

    gini, di satu sisi si ce ini seneng sama hans *karena dia jd ngga sendirian selama hans masih di samping dia* tp di sisi lain, dia jg masih mencintai orang lain yg telah berlalu. makanya dia dilema gitu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: