Elegi Cintaku

Hmm.. aku cantik, semua orang juga mengakuinya, pakaianku bagus, rapih, tentu saja aku harus berpenampilan sebaik mungkin. Aku seorang CEO sebuah perusahaan terkemuka di negeri ini. Cerdas dengan indra yang sangat tajam. Semua orang memujaku, kaum hawa selalu merasa iri padaku dan kaum adam selalu selalu berusaha menarik perhatianku. Aku mengakui semua kelebihan fisik yang aku miliki. Apa salah kalau aku memuja diriku? Tentu saja tidak bukan? Aku tersenyum pada bayangan di cermin berukuran besar di kamarku yang luas. Mengamati diri sendiri, ini ritualku setiap pagi. Mencari celah kesalahan kecil yang mungkin aku lakukan.

Aku cukup keras pada diriku dan aku juga keras mengenai kebijakan-kebijakan perusahaan. Hidup itu hanya sekali, kita harus mendapatkan yang paling baik dan paling sempurna, bukankah begitu? Prinsip hidupku adalah semua atau tidak sama sekali. Tidak ada hal setengah-setengah yang patut untuk di perjuangkan, dalam hal apapun dan aku tidak bisa metolerir sikap seperti itu bahkan untuk diriku sendiri. Kejam? Kadang kata itu terlintas di pikiranku, tapi apa? Hidup itu memang kejam. Jadi terima saja dan berjuanglah menghadapi itu.

“Ah.. sungguh beruntung orang yang bisa mendapatkanmu Nen” itu kata setiap orang terhadapku. Aku terlihat amat sangat sempurna. Semua hidupku ku dedikasikan untuk kepentingan orang banyak, memberikan hal terbaik untuk kebaikan semua. “kamu seperti lentera, yang selalu siap menerangi kami semua” huh.. itu kata-kata patner kerjaku di kantor. Dan memang sudah tak terhitung lagi berapa banyak pujian yang selalu aku dapat seumur hidupku. Hingga pada suatu hari ada salah satu sahabatku berkata “hidupmu seperti mercusuar, tinggi, kokoh, terang benderang dari luar, tapi rapuh, kosong di dalamnya. Kamu kesepian kan Nency?” aku hanya tersenyum waktu itu. Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun untuknya. Benarkah demikian? Aku kembali mengamati wajahku. Sahabatku cukup banyak, kehidupan sosialku juga cukup menjanjikan, tapi kenapa ungkapan tentang mercusuar itu begitu meresahkanku?

Aku masih memikirkan arti kata “mercusuar” ketika tiba-tiba Lessy mengguncang tanganku “kau tidak mendengarkan ku? Benar kan?”

“Hah? Maaf Les, aku agak melamun tadi.. apa yang kau katakan?” ku layangkan senyum permohonan maaf ke Lessy yang dengan heran memperhatikan wajahku

“Jangan bilang kau habis melihat hantu atau semacamnya?”
Aku menyerngit mendengar penuturan Lessy rekan satu kantorku yang tampak kebingungan
“aku hanya sedang berfikir, itu saja” kataku menenangkan

“Oh baik lah, seorang Nency memang selalu berfikir. Mungkin sekali-kali kau tidak harus berfikir terlalu keras. Hanya nikmati saja hidup ini.. jatuh cinta, merasakan kebahagiaan tanpa harus berfikir” katanya serius

“Ah.. jatuh cinta? Tanpa berfikir? Hhhmm.. ide bagus” kataku sambil membuka file di komputerku.

“Sudah berapa lama kau tidak berkencan? Berapa lama kau tidak bersenang-senang? Berapa lama kau tidak mengizinkan kebutuhan hidup mengambil alih jalan pikiranmu? Berapa lama..”

“ooohhh… aku bisa menjelaskan nya Les, tenang saja. Tapi tidak saat ini, pekerjaanku amat sangat banyak” sambil membuka pintu dan menggiring Lessy keluar dari ruang kantorku

Dia masih tetap menanyakan berbagai hal bahkan sampai sudah berapa lama aku tidak pergi mengunjungi rumah sodara sepupu ku, satu-satunya manusia yang mempunyai ikatan darah denganku. Lessy dia selalu atraktif, coba kalau itu juga berlaku untuk semua pekerjaan yang dia lakukan. Mungkin dia yang akan mendapatkan ruangan ini bukan aku.

Jatuh cinta tanpa berfikir?? Hahahahaha… semua orang pernah melakukannya. Bahkan aku seorang miss perfect sekalipun. Tapi apa setelah itu? Begitu pikiran kembali mengambil alih semua hal terasa seperti kamuflase. Hal-hal yang tadinya terlihat indah, membahagiakan ternyata hanya omong kosong belaka. Tidak realistis bukan bagian dari hidupku, harusnya aku belajar banyak dalam hal ini. Seharusnya aku tau akhirnya akan seperti ini, seharusnya aku tetap selau berpegang teguh pada prinsip dan pikiran rasionalku. Kutarik nafas panjang dan merilemaskan otot punggungku. Segalanya masih terlalu menyakitkan, masih terlalu segar dalam ingatanku. Satu tahun sudah berlalu, harusnya aku sudah bisa melihat orang lain, harusnya aku sudah berkencan lagi dengan orang lain, tapi apa?

Aku merindukannya, ku ambil hpku. Aku tau bagaimana caranya menyelesaikan segalanya, aku tau bagaimana agar kegalauanku bisa berakhir. Ku pencet beberapa angka di hpku, tapi seperti yang sudah-sudah aku pasti menekan tombol end sebelum nada panggil terdengar. Segalanya telah ku berikan, tapi dia tidak pernah mencoba untuk mengerti diriku. Dulu aku selalu beranggapan dia adalah orang yang paling tepat untukku, bahkan mungkin sekarang aku juga masih beranggapan seperti itu. Aku paling tidak suka dengan proses penyesuaian diri, terhadap apapun juga, tapi aku selalu berusaha menyesuaikan diri dengannya, mencoba memahami, mencarai celah hatinya, mencoba merasuki, menyentuh palung jiwanya bahkan kalau harus mengiba aku pun akan mengiba padanya.

Yeah.. aku sudah memberikan segalanya padanya, sampai air mataku habis dan rasa ini pun sudah sampai di ujung lelahku. Hingga akhirnya aku mengatakan “mungkin memang cinta sudah lewat dan memang semuanya cukup sampai disini” aku harus berani mengakhiri semuanya, aku merasa semuanya tidak pas, tidak pada tempatnya, kerapihan file-file pribadiku terasa amburadul. “Why u’r being so selfish?” katanya serak malam itu. Perasaanku campur aduk, suaranya amat sangat mempengaruhiku, ku coba menjernihkan otakku, ku tarik nafas panjang berkali-laki menenangkan indraku. Aku ingin menangis tapi aku tidak bisa, aku mati rasa, aku tidak merasa sedih, senang, aku tidak bisa merasakan apapun. Keputusan bulat sudah di ambil, pemikiran rasional otakku mengambil alih semuanya, meski hatiku menjerit, tersayat pilu merasa terabaikan.

Aku tidak menyesal jatuh cinta padanya, dan aku juga berusaha tidak menyesal mengakhiri segalanya. Ini adalah bagian dalam hidup, aku selalu mengingatkan diriku setiap kali perasaan melankolis dan hatiku menjerit. Aku harus berjuang mengatasinya, aku harus membuat kesepakatan antara rasio dan hatiku. Yah.. kami hanyalah sepasang manusia yang salah memahami cinta. Karena cinta adalah cinta, cinta tidak harus saling memiliki bukan? Tapi jalinan cinta tetaplah butuh sebuah janji. Itu yang tidak bisa kau berikan untukku, aku tidak bisa membohongi hatiku yang masih menginkan dirimu tapi aku tidak bisa egois kan? Kenyataan ada di depan mata dan aku harus menghadapinya.
“Semua atau tidak sama sekali”

8:16 PM, bangun tidur

Advertisements

8 Comments

  1. Wong Solo said,

    February 25, 2009 at 7:23 am

    tokohnya utamanya wanita, tapi

    “Keputusan bulat sudah di ambil, pemikiran rasional otakku mengambil alih semuanya, meski hatiku menjerit, tersayat pilu merasa terabaikan”

    kata orang wanita itu lebih cederung mengutamakan perasaan dari pada logika, kebalikan dengan pria.

    bener ngga?

    ies : iye wan.. tp aku salut sama ce2 yg mampu mempertahankan logika…
    dan kadang aku jg gitu ^_^
    sankyu dah komen 😉

  2. Wong Solo said,

    February 25, 2009 at 7:47 am

    “dan kadang aku jg gitu ^_^”

    dasar narsis :))

    Ies : Emang [lol]

  3. gio said,

    February 25, 2009 at 8:04 am

    Lemayan bu

    Ies : kok lumayan doang pak?

  4. hashun said,

    February 25, 2009 at 8:10 am

    hem… hehe

    kyknya tokoh2 utama nya seringkali wanita karir ya..

    sori blum baca sampe selese, lg banyak kerjaan 😛

    tar ku lanjut lg ya ..

    Ies : emang knp dgn wanita karier si??? kok pada mbahas itu ?

  5. adif keren said,

    February 25, 2009 at 8:28 am

    karakternya wanita karir mulu neeh

    cinta itu butuh komitmen

    Ies : ngga tau tu.. idenya adanya itu 😛
    hu uh setuju dif 😛

  6. February 25, 2009 at 10:24 am

    – SEMUA ATAU TIDAK SAMA SEKALI –

    mengerikan!!

    ies : dari pada setengah-setengah, mateng ngga, mentah ngga..
    neraka ngga, surga ngga.. hayu mau yg mana? [lol]

  7. February 26, 2009 at 7:09 am

    narsisnya mirip yang nulis wakakaka

    ehm komennya nymbung ama yg wong solo

    hmmm tokohnya rasional yah? tp koq di akhir dia seakan dia terpuruk ama patah hati dan gak mau mencoba lagi yah?

    tokohnya ambivalensi yah?

    di satu sisi keliatan tegar di sisi lain sebenernya dia rapuh….

    *lupa arti ambivalensi* hehehehehe

    but nice story 🙂
    Ies : apa itu ambivalensi mer? ngga ngerti ni baka soalnya 😛
    ngga tau tu.. endingnya kok malah jadi kaya gitu

  8. sloka said,

    July 22, 2009 at 3:14 am

    kehidupan ini anggap aja tantangan yang harus diselesaikan …..

    ies hidup itu pilihan kak 😀 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: