Angels Death – Part I

Sabtu, Pukul 20.30

Nania Brown, artis papan atas yang sedang naik daun. Dia berasal dari keluarga yang amat sangat terpandang di London, darah biru dan gelar kebangsawanan mengalir dalam darahnya. Tapi bukan karena itu dia berhasil menduduki peringkat artis paling ngetop tahun ini. Dia cantik, berambut panjang dengan mata biru dan bibir sensual. Kulitnya putih seperti susu, kecantikannya makin di perkuat dengan tubuh yang tinggi semampai dan setiap lekukannya. Dia mempunyai modal latar belakang dan wajah yang rupawan bak peri. Dia selalu di puja banyak orang, selalu bisa membujuk siapa saja untuk melakukan apa saja untukknya hanya sekali kedip dan dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari setiap asset yang dia miliki.

 

Malam ini saatnya, dia harus mendapatkan apapun yang dia mau. Hal yang sudah menjadi aturan baku dalam hidup yang dia jalani. 

“Malam ini, kau akan menjadi milikku sepenuhnya Gun” Nania mendesah. Mike Gun siapa yang tidak mengenal namanya di dunia entertainment. Di usianya yang baru memasuki awal 30 an, dia sudah di nobatkan sebagai Actor legendaris karena kemampuan actingnya yang sudah tidak di ragukan lagi. Dia selalu sukses menyabet setiap penghargaan untuk setiap film yang dia bintangi. Dia berbakat alami, demikian sebutan para kritikus film padanya. Dengan wajah campuran setengah asia, mata coklat dan bibir yang seolah di ciptakan untuk mencium, laki-laki itu terlihat seperti malaikat yang terjatuh dalam dosa, lengkap dengan segala daya tarik berbahaya yang di warikan oleh Lucifer.

 

Setiap wanita di seantero planet ini menginginkannya, tapi sayang sekali, dia hanya akan menjadi milikku, renung Nania. Dia sudah berhubungan dengan Gun selama tiga bulan, waktu yang bisa terbilang paling lama yang pernah ia jalani. Sekarang saat nya dia menebarkan jala untuk menjaring lelaki paling di inginkan semua orang itu. Nania mengelus perutnya yang sedikit membuncit, dia tidak pernah bermimpi bahkan berharap akan melahirkan seorang anak, dia artis terkenal, tubuh merupakan asset yang sangat berharga. Tapi demi tujuannya menjadi nyonya Gun dia rela melakukan apapun, “ada begitu banyak cara benar begitu bukan?” Pikirnya sambil terus mengusapkan lotion di seluruh tubuhnya. Sudah waktunya dia memberi tahu Gun apa yang ada dalam rahimnya, saat yang sangat dia tunggu-tunggu.

 

Nania sendiri tidak yakin Gun berkeinginan untuk membangun keluarga secara tradisional, dia seorang laki-laki yang senang mencoba hal-hal baru, laki-laki yang tidak pernah merasa puas dengan satu wanita. Tapi itu semua tidak meresahkan Nania, akan ada banyak lelaki lain untuk dirinya sendiri nanti. Yang paling terpenting saat ini adalah meletakkan nama Gun di belakang namanya sendiri. Mengenai anak ini, dia bisa menghilangkannya dengan berbagai cara. Memikirkan itu saja sudah membuat jantung Nania melonjak kegirangan. Sebentar lagi, tidak lebih dari tiga puluh menit lagi hidupnya akan berubah.

 

Suara kunci di putar menyadarkan Nania dari lamunan panjangnya, pengaturan waktu yang salah, seharusnya Gun datang ke apartemennya setengah jam lagi.

“Ah, dia sudah tidak sabar bertemu denganku rupanya” Nania menyunggingkan senyum paling rupawan yang dia miliki.

 

“Gun, kau sudah datang? Sebentar lagi aku keluar honey.. “ seru Nania dari dalam kamarnya. Tepat ketika dia berbalik, dia melihat bayangan gelap itu

 

“Kenapa kau… “ belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, sebilah pisau telah menancap di jantungnya. Nania mengerjapkan matanya, tidak sanggup berkata-kata, dia mengarahkan pandangan tercengang, shock dan marah kesosok gelap di depannya. Cairan berwarna merah cerah merembes di antara sela-sela benang jubah kamar warna putih yang dia kenakan. Air mata menetes di ujung mata Nania, tebayang semua gambaran masa kecilnya, pemotretan pertamanya, film pertamanya, bahkan penghargaan pertama yang dia dapatkan.

 

Sesosok gelap itu menarik ujung pisau yang terlihat seperti belati, menancapkan berkali-kali ke tubuh molek yang terbaring tidak berdaya di atas permadani Persia yang terlihat amat mahal. Dia tesenyum sinis, terus menghujamkan belatinya ke dada dan perut wanita yang sudah tak bernyawa itu.

 

Pukul, 21.45

Rintik gerimis membasahi jas hujan yang di pakai seorang deputi wanita, yang meski jelas kedinginan terlihat sangat kompeten pada pekerjaannya. Seraya membuka kancing teratas jas hujannya, wanita itu memberikan perintah menyeluruh ke semua anak buahnya. “Carl, jangan lupa selusuri seluruh area apartemen ini” katanya tegas kepada salah seorang anak buahnya sambil mengedarkan pandangannya kearah kamar tidur yang berlumuran darah dan tempat tidur yang seolah-olah di persiapkan dengan sangat baik sebagai altar pesembahan dewa kematian.

 

“Bukan pemandangan yang mengenakkan untuk di lihat pada sabtu malam” Bisik  seorang laki-laki tegap berjas biru laut dan lencana di ikat pinggangnya. Dia terlihat sudah membuka jas hujannya.

 

“Wanita yang sangat cantik, lihat betapa damainya dia” katanya serak.

 

“Huh.. dia akan telihat lebih damai tanpa semua ceceran darah ini Jason” deputi wanita itu menyela kata-kata deputi tampan bernama Jason itu.

 

“Santai, Letnan.. kau selalu serius. Ini sabtu malam waktunya semua orang bersenang-senang kenapa kita malah harus berkutat dengan genangan darah ini?” kata Jason muram

 

“Jangan bilang alasan keterlambatanmu kali ini, karena kau sedang pergi berkencan dengan wanita pirang, berdada besar dan berotak tumpul!” seru wanita itu

 

“Ah, coba kau Letnan Rezany Powell yang berotak cerdas mau aku ajak berkencan…hhmmm….sesekali” bisik Jason begitu melihat pancaran amarah di mata rekan kerjanya itu.

 

“Nania Brown, dia memenangi artis paling ngetop tahun ini. Di bunuh secara sadis di kamar apartemennya sendiri, di posisikan sedemikian sehingga mayatnya terlihat seperti malaikat yang sedang berdoa. Di temukan oleh pacarnya sendiri, seorang actor legendaries”

 

“Mike gun” Jason buru-buru memotong kalimat Reza

 

“Kau mengenalnya?” Tanya detektif reza

 

“Yah, kenal cukup baik malah. Kami anggota club kebugaran yang sama. Terkadang kami berpapasan dan bertegur sapa. Dia bukan tipe orang yang tega melakukan pembunuhan sekeji ini”

 

“Dasar kalian anak-anak manja yang di besarkan dengan harta melimpah! Karena tampangnya seperti malaikat, bukan berarti dia tida berdosa. Bisa jadi dia adalah titisan Lucifer sendiri” Dengus Reza jijik

 

“Hei, apa salahnya menjadi anak orang kaya? Bukan karena Gun terkenal dan kaya raya yang menyebabkan kau memandangnya sebagai tersangka bukan?” bela Jason

 

“Aku tidak mengatakan dia tersangkanya, tapi aku akan menjebloskan dia ke penjara yang dingin dengan tanganku sendiri begitu semua bukti mengarah kepadanya!” seru reza antusias

 

“Oke, sementara itu. Lebih baik kita menanyai saksi utama kita, di mana dia Rez?”

 

“Dia ada di salah satu mobil patroli, aku yakin di luar wartawan sudah mengepung tempat ini seperti lalat. Prosedur awal sudah di laksanakan, kita akan membawanya ke markas dan memaksa eh, meminta keterangan lebih lanjut darinya” Reza berkata sambil meninggalkan kamar berbau anyir tersebut. Berjanji dalam hati bahwa dia akan menuntut keadilan kepada mereka yang bersalah, hidupnya di dedikasikan untuk itu.

 

* * * *

to be continued…..

Advertisements

7 Comments

  1. shun said,

    March 6, 2009 at 9:48 am

    hem2, sekarang kisah2 detektip gitu ya..

    jd inget blood in vienna? (agak lupa judulnya)

    o ya pertama kali aku nyapa ies kan waktu itu, pas ies masang status vienna blood nya ilang (ketinggalan di toko) ^O^

    Ies : iyeeee…. bukuku ketinggalan, pertama kali ngobrol sama taka ya?
    romantis juga, bisa di ceritakan ke anak cucu kelak << apa ini ya? [lol][lol][lol]

  2. March 7, 2009 at 2:45 am

    Perasaan aku nusuknya cuma pakai pisau mainan kok. Duh, iis berusaha membohongi publik dengan menjadikan aku sosok yg misterius. Teruskan kisah ini is! I am excited!

    ies : udah ada tu lanjutannya.. masih sedikit si..
    yg lain menyusul deh ^_^

  3. adifpalingkeren said,

    March 7, 2009 at 9:52 am

    menurut ku dah lebih bagus kok daripada yang sebelumnya

    gak sabar nunggu lanjutannya

    ies : makasih.. makasih

  4. uly said,

    March 10, 2009 at 7:07 am

    isti teruskan perjuanganmu.. happy ending ngapa kali2 :p

    ies : hehehehe… liat saja nanti uly…
    masih byk tokoh blm keluar tu 😛

  5. Wong solo said,

    March 12, 2009 at 2:14 am

    kamaren cerita cerai, sekarang pembunuhan…… Bukan korban sinetron kan ies ?

    Ies : haduh… korban novel wan [lol]

  6. Ale said,

    March 12, 2009 at 10:22 am

    ini semacam fanfic ya??

    Ies : iye… emang aku post buat FF di FI 😛

  7. mer said,

    March 22, 2009 at 2:54 pm

    eng ung…..bagus seh…tapi plotnya datar…kayak baca twilight 😛
    eh gak deng, ini part 1 kan? brarti masih pemaparan 🙂
    bagus…..iri g bisa bikin T__T *nangis dipojokan*

    Ies : hahahahah….. susah deh ngilangin gaya penulis2 itu mer dr otakku 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: