Angels Death – Part II

Oh Tuhan, dia tidak percaya apa yang dia lihat, bagaimana mungkin wanita yang menjadi kekasihnya selama tiga bulan ini terbujur kaku dengan semua genangan darah itu. Dia tidak mencintai Nania tentu saja, semua hubungan percintaannya didasarkan pada kepraktisan semata. Tidak pernah ada ide tentang cinta di otaknya, dia lelaki modern, dia bisa mendapatkan apa yg dia mau. Lagi pula cinta bukan bagian dari hidupnya, dia sudah sering melihat cinta yg berakhir dengan kebencian sama seperti yang dia lihat sepanjang masa kecilnya.

“Kau tidak apa-apa Gun?” Tanya seorang wanita bertubuh ramping dan senyum menawan yang baru tiba di sampingnya.

“Yeah…Nancy aku tidak apa-apa” serigai Gun.

“Kau belum membuat pernyataan apapun pada polisi bukan? Kau harus menceritakan semua detail kejadian yang kau lihat kepadaku. Mereka tidak akan bisa menahanmu, kau tidak bersalah . aku akan memastikan mereka membiarkanmu pulang malam ini” kata Nancy seraya membuka laptopnya

“Bagaiman kau yakin aku tidak bersalah?” bisik Gun muram

“Aku pengacaramu, aku akan memastikan hal itu. Kau hanya harus menceritakan detail lengkapnya selebihnya aku yang akan mengurus semuanya untukmu”.

Mike Gun tersenyum kearah pengacara mudanya itu. Dia yakin sekali hanya dengan sedikit bujukan Nancy akan berakhir di ranjangnya malam ini. Tapi tentu saja dia tidak akan berbuat itu, sekali wanita itu jatuh ke tangannya dia tidak akan cukup kompeten untuk membela kasus ini lagi.

“Aku datang sekitar pukul 21.30, kami ada janji kencan pukul 21.00. di luar hujan, jalanan macet dan ada pohon tumbang di sekitar taman dekat apartemen Nania. Aku terlambat 30 menit” kata-kata meluncur dari mulutnya, sama persis seperti yang dia ceritakan ke deputi muda yang menanyainya di apartemen Nania tadi.

“Setelah memanggil namanya tiga kali dan tidak ada jawaban dari Nania, aku melangkah masuk ke kamarnya, biasanya dia selalu menyambutku di ruang tamu. Mungkin dia marah itu pemikiran pertamaku karena terlambat 30 menit. Tetapi begitu aku memasuki kamarnya, saat itu juga aku melihat tubuh Nania yang di atur seperti malaikat yang bedoa di atas tempat tidur. Jubah putihnya berubah warna menjadi merah terang, aku tidak berani mendekatinya apalagi menyentuhnya. Aku keluar dan menelpon polisi, 5 menit kemudian mereka datang” Gun mengakhiri ceritanya sambil merenung.

“Itu juga yang kau ceritakan ke polisi bukan?” Tanya Nency seraya mendongakkan wajahnya menatap Mike Gun

“Iya, persis setiap kata” tidak ada orang yang berani meragukan kemampuan Mike Gun untuk menghafal berbagai jenis kata atau kalimat. Mungkin itu juga yang menyebabkan detektif wanita berambut merah itu tidak mempercayainya, memandangnya tanpa berkedip seolah dia bisa membaca jalan pikiran yang berkecamuk di otak Gun. Dia tidak pernah menyukai polisi, semenarik apapun dia, tapi detektif berambut merah itu mampu membuat perut Gun melilit, gemetar dan membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak dia pikirkan saat ini.

Nency Hunt, sedang berada di kantornya sore tadi. Sibuk membuat perencanaan untuk kasus narkotika yang melibatkan anggota parlemen yang sedang dia bela, tugasnyalah untuk memastikan anggota parlemen itu untuk bisa terbebas dari segala macam tuduhan tidak perduli apakah anggota parlemen itu benar-benar tidak bersalah atau sebaliknya. Dia juga harus memastikan pihak kepolisian tidak mengendus-ngendus kasus yang sama untuk ke dua kalinya, dia di bayar untuk itu. Itulah dia, seorang pengacara criminal yang sangat handal, di ruang sidang namanya sudah tidak di ragukan lagi kehebatannya meski karena itu pula dia kehilangan kepercayaan orang yang mungkin paling berarti bagi dirinya. Perbedaan kepercayaan, pandangan hidup, visi dan misi ah.. terlalu banyak perbedaan di antara mereka, dan lihatlah dia sekarang

“siapa bilang semua perempuan membutuhkan laki-laki” Nency bergumam di antara tumpukan dokumen di mejanya. Urg, seharusnya dia tidak memikirkan hal itu lagi, dia bisa hidup tanpa keparat tampan yang menganggapnya tidak punya hati nurani itu. Dia sedang berkutat dengan pikirannya ketika suara telp dari Andrew Swift manager Mike Gun membuyarkan lamunannya. Mr. Andrew meminta kesediannya untuk membela Mike Gun, meski pihak kepolisian belum menetapkannya sebagai tersangka pembunuhan Nania Brown. Jujur saja Nency beranggapan kasus ini dapat melejitkan namanya, siapa yang tidak mengenal pasangan Mike Gun dan Nania Brown? Pasangan yang paling banyak di puja akhir-akhir ini, pasangan yang di anggap sebagai pasangan paling serasi abad ini.

Dan dia sudah menduganya tentu saja, Jason Smitt akan bertugas menangani kasus ini. Rezany powell dan Jason Smitt adalah pasangan detektif yang sangat handal dan sudah menjadi momok paling di benci oleh semua pengacara criminal. Jason Smitt, dengan tubuh jangkungnya, rambut pirang kecoklatan dan mata berwarna coklat ke emasan selalu membuat jantung Nency berdebar dua kali lebih cepat. Kecakapan Jason di meja interogasi bisa membut semua tersangka berpikir ulang untuk berbohong, dan kehadiran Reza melengkapi sosok dewa kematian dalam diri Jason. Reza adalah wanita bertangan dingin, selalu menjunjung tinggi rasionalitas, dan kebenaran, mungkin sedikit tidak manusiawi dan tidak berhati nurani. Lihatlah Jason, orang yang pernah mengatakan dia wanita dingin tidak berhati nurani sekarang berpatner dengan wanita yang sama seperti dirinya, ironis.

Nency menemui Gun di ruang interogasi, memastikan keberadaan laki-laki itu pada saat Nania Brown terbunuh dan memastikan dia tidak memberikan informasi yang bisa memberatkan kan dirinya jika kasus ini makin meluas. Dan di sanalah dia, berhadapan dengan mantan suaminya Jason Smitt. Nency berusaha mengedalikan debaran jantungnya yang semakin menggila, dia menutupinya dengan ekspresi dingin serta mengalihkan pandangannya pada Mike Gun. Gun merupakan tipe laki-laki yang enak di lihat, dia tersenyum manis pada Gun meski dia yakin Gun selalu bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan. Sayang terlihat jelas saat ini bukan Nency yang ada di otak laki-laki itu. Gun Mengarahkan tatapan matanya secara menyeluruh ke arah wanita berambut merah di seberang kursinya, seolah-olah wanita itu adalah wanita terakhir yang ada di planet ini.

“Sialan!” desis Jason di sela-sela bunyi pancuran air di kamar mandi apartemennya. Nency Hunt, seharusnya masih menjadi Nency Smitt saat ini. Wanita itu mengacuhkan kehadirannya di ruang interogasi tadi. Oke dia memang orang yang paling bertanggung jawab atas perpisahan mereka, tapi lihat saja Nency sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan dia hanya mengemasi pakaiannya dan pergi, keesokan paginya dia datang dengan berkas perceraian, mengatakan betapa gegabahnya dia menikah di usia muda dan menganggap bahwa nafsu adalah cinta. Sementara Jason membenarkan semua perkataan Nency serta menandatangani berkas tersebut. Habis perkara, setelah itu dia berkencan dengan banyak sekali perempuan tapi tidak ada yang pernah menyamai kehadiran Nency di dekatnya. Wanita lain selalu menjadi pengalih perhatian dari kekosongan yang di tinggalkan Nency untuknya. Dan sekarang dia harus berhadapan dengan wanita yang bahkan menganggap keberadaannyapun tidak, dia tampak terpesona pada si tampan Mike Gun. Bahkan Reza wanita paling rasional yang di kenalpun tidak berkedip melihat setan mempesona itu. Tentu saja Reza tidak mengetahui masa lalunya dengan Nency, dia belum bertugas di kepolisian yang sekarang pada saat menikah dengan Nency.

Persahabatan nya dengan Mike Gun sepertinya juga menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai pihak. Bahkan atasannya sendiri sepertinya juga sedikit mempertanyakan kredibilitasnya. Seolah-olah semua orang menunggu di mana kesetiannya akan di letakkan. Demi Tuhan, apa tidak ada manusia di planet ini yang bisa mempercayai kecakapannya di dunia kepolisian? Hanya karena dia terlahir dari golongan elite kelas atas, berwajah di atas rata-rata, dan sedikit bersenang-senang dalam hidup. Di saat semua laki-laki dalam posisinya pasti lebih senang menikmati anggur mahal di depan perapian, bermain golf dan keliling dunia dengan kapal pesiar, dia malah memutuskan untuk menjadi detektif serta berkutat dengan penjahat, darah dan pembunuhan. Dan apa karena semua itu dia tidak bisa di terima di manapun? Bahkan oleh mantan istrinya sendiri, orang yang pernah berbagi segala hal dengannya. “Damn!!! Terkutuklah mereka semua” maki Jason seraya mematikan pancuran kamar mandi.

* * * * *
Dia di bebaskan tentu saja, tidak ada cukup bukti untuk menahan seorang Mike Gun lebih lama. Apalagi pengacara laki-laki itu, Nency Hunt adalah pengacara criminal paling di segani saat ini.

“Kalau Mike Gun tidak bersalah, kenapa dia harus menyewa pengacara setangguh Nancy Hunt” Renung Reza di kantor kecil nya sambil membuka ikatan yang mengekang rambut merahnya.

“hhmm apa ada sesuatu yg di sembunyikan sehigga dia perlu berjaga-jaga? Atau hanya untuk menjaga gengsi?” sepertinya jawaban kedua yang lebih masuk akal.

Laki-laki tampan, kaya raya, berotak udang yang selalu di kelilingi paparazy dan wanita berdada besar, sama sekali bukan tipe laki-laki yang biasanya menggugah minatnya. Reza jarang menghabiskan waktunya di depan televisi, dia tidak begitu tau perkembangan karier ataupun gossip terbaru para artis. Tapi dia sudah cukup sering melihat wajah Gun di berbagai media cetak, selain sebagai seorang artis Gun jg di kabarkan seorang bisnisman muda, dan dermawan yang paling loyal di Negara ini. Lututnya sedikit lemas ketika berhadapan dengan Gun sore tadi, rambut kecoklatan yang sedikit panjang sampai kekerah setelan resminya mempertegas kesan misterius pada diri laki-laki itu. Tangannya gatal ingin menyibakkan rambut depan Gun yang menjuntai lolos dari tatanannya,

“Apa setiap wanita selalu bereaksi seperti itu terhadap ketampanannya? sungguh tidak adil!” Makinya .

Karena itu dia berusaha membuat kepalanya jernih dengan cara melototi wajah tampan itu dan menyerngit kan alis pada beberapa kata yang di ucapkan laki-laki itu. Dia berusaha agar ketertarikan nya ke Gun tidak terlihat telalu mencolok. Atmosfir di ruang introgasi tadi tadi terasa sangat panas, Jason duduk di sampingnya tanpa berkedip memandang wajah Nency Hunt. Dan Reza yakin, Nency juga merasakan hal yang sama seperti Jason. Terlihat jelas di wajah mereka berdua, dia tidak mau melakukan hal yang sama seperti mereka berdua, itu bodoh namanya. Dia seorang penegak hukum, dia tidak akan berhasrat ke tersangka utama sebuah pembunuhan berdarah.

Sejauh ini belum ada kabar menggembirakan dari kasus ini, belati atau pisau yang di pakai untuk menikam wanita itu juga belum bisa di temukan. Hasil otopsi baru keluar besok pagi. Kantor polisi sudah di penuhi wartawan yang ingin tau, seharusnya dia membuat jumpa pers untuk memberi kabar perkembangan kasus ini. Tapi tidak hari Ini, tidak malam ini. Dia harus memikirkan kira-kira motive apa yang menyebabkan seseorang secara tidak beradab bisa membunuh wanita malang itu. Nania Brown, sangat cantik, dia pasti selalu di kejar-kejar banyak laki-laki. Laki-laki yang cemburu? Perebutan harta? Perebutan peran? Bukannya terkadang hal sepele saja bisa menyebabkan seseorang membunuh orang lain dengan begitu mudahnya? Tanpa rasa penyesalan sedikitpun sesudahnya?. Setelah lebih dari 5 th Reza menjadi detektif criminal, dia sudah bisa meraba-raba motiv-motiv yang terkadang tidak pernah terfikir sedikitpun oleh orang lain. Dia harus berfikir, dia harus menemukan jawaban-jawaban dari semua teka-teki dan petanyaan-pertanyaan di otaknya. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang mengagumi ketampanan Mike Gun tentu saja, sejauh ini dia adalah tersangka utamanya.

Di sebuah ruangan dengan cahaya temaram, sesosok bayangan gelap mematikan televisi yang sedang menayangkan berita pembunuhan aktris muda Nania Brown. Pembunuhan yang sangat sadis, sangat tidak beradab. Sosok bayangan itu tersenyum sinis, Andai mereka tau sensasinya, ketidak berdayaan Nania si aktris manja yang suka berbuat seenaknya itu, tatapan mengiba, dan genangan air mata di sudut matanya. Mereka pasti akan merasa sangat kegirangan, sama seperti dirinya saat ini. Gairah adrenalin masih membanjiri darahnya, setiap dia memejamkan mata dan membayangangkan saat-saat terakhir seorang Nania Brown yang terkenal. Dia terkekeh, suaranya serak yang semakin lama semakin meyeramkan, dia tertawa terbahak-bahak

“It’s Show time Baby!” bisiknya seraya menjilat belati berlumuran darah di tangannya.

* * * *
To be continued

Advertisements

13 Comments

  1. Wong solo said,

    March 12, 2009 at 2:36 am

    jadi rumit gini ceritanya, ngga sabar pengen baca lanjutannya.
    awas ya kalo endingnya ngga jelas :p

    Ies : sedang di usahakan ni……….. gali-gali inspirasi ^_^

  2. Mew said,

    March 12, 2009 at 6:24 am

    I like it… I like it….

    Come on….

    Sambung, ies…

    Jadilah virus…. [hmpfh]

    Ies : Sankyuuu… mewww…
    part 3 sdng dlm tahap editing..
    ntar aku iklanin kl dah di post deh ^_^

  3. Ale said,

    March 12, 2009 at 10:23 am

    Loh…. kok ceritanya jadi kek gitu??
    Unpredictable. hahahahaahah….

    Ies : emang dikiranya gimana?

  4. deendeen said,

    March 13, 2009 at 5:54 am

    oooy. ies.. keren deh.. tp sgt2 jd.robb..
    btw.. gw pnsrn… trus ada bbrp kesalahan penulisan jenk.. misal paparazy seharusnya paparazzi..
    salut bwt elo.. btw, si nancy jadian sm siapa y.. kok gw sukanya di jd sm Mike Gun aja buu…

    Ies : hahaha.. JD Robb banget ya?? 😛
    walah.. aku make word biasanya suka gitu tu… ngedite sendiri 😛

    hhmmm… request lagi, aku bingung jadinya 😛
    ending ku dah di rombak berkali2 ni 😛
    the next aja ya den……..

  5. Taufik charmed said,

    March 13, 2009 at 6:29 am

    Loh uda ada yg part2 nya?
    😀

    Om : ini masih part I di FF kok…
    sama… aku post di sini dulu waktu itu hehehe

  6. Taufik charmed said,

    March 13, 2009 at 6:31 am

    Oow mash yg kemaren rupanya 😛
    Kok gak sy bc dulu ya hahahaha

    ies : iye kan sama………. [hmpfh]

  7. aing said,

    March 13, 2009 at 8:25 am

    lha, nulis apik kaya kiye kok ra woro2… ah, kecewa lah…
    lewih kecewa maning karena theme blog e padha…

    hahaha….

    kapan2 nek wis posting langsung kabari aku yah, ben bisa nulis “pertamax”

    Ies : gyaaaa…. jadi malu an 😛
    okok, sesuk tek kabari lah ^_^
    makasih dah mampir………

  8. Taufik charmed said,

    March 13, 2009 at 11:01 am

    Wong Jowo kabeh ya 😀

    Ies : ngga semua om.. [hmpfh]

  9. March 13, 2009 at 8:01 pm

    pokoke nek isa aja keakehan PART, is!
    dadine kaya sinetron TERSANJUNG mengko.

    Ies : mau bagaimana lagi dongggg………..
    ceritanya panjang pin ^_^

  10. mer said,

    March 22, 2009 at 2:59 pm

    wakakaka serem trakhirnya….I like it….
    ceritamu makin mateng….
    cuma kalo boleh usul, kurangin kalimat “lebay ala bella”
    huehehehe jangan terlalu memuja tokoh, bacanya jadi garing….kan yang baca bukan pecinta HR or HQ aja…kasihanilah diriku 😛

    overall….i love it…..[clap] [clap]

    Ies : hahahhaa…. aku kan pemuja HR n HQ mer.. susah di ilangin deh bahasa lebaynya kwkwkwkw
    aku usahakan, part selanjutnya malah lbh parah kyknya 😛

    hayukk.. kl tgl 27 mau ke istora, aku traktir mer bakso sepuasnya…
    berani???? *hmpfh*

    *traktir bakso donk* 😛

  11. hanif said,

    March 26, 2009 at 4:41 pm

    Usul…pada karo ipin
    judule beda, tapi isi masih nyambung dengan yang sebelumnya, gimana ?

    Ies : budi.. sepertinya agak susah deh, soalnya ini bagian dr Fan Fic
    kl di ganti2 judul ntar aneh dong…

  12. uly said,

    May 7, 2009 at 3:58 am

    hihihi nama2 pemerannya lucu2, kayana aq tau inspirasinya darimana.. :p

    keep up the good work..

    Ies : ya iyalah.. secara namanya pasaran dlm novel yg aku transfer padamu…
    dan sedikit banyak aku jg terpengaruh penulis2 itu ul *hmpfh*

  13. lenren said,

    June 23, 2009 at 7:32 am

    Hueee kirain dah chapter 2, ternyata chapter 1 dibagi 2…

    Penasaran nih siapa yg bunuh~

    ~Ilma

    ies : wah.. sampe sini juga… iya waktu itu post di sini dulu part 1 nya pas di FI aku tambahin dan jadi part II di sini…
    hehhehee.. sankyu dah baca yah……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: