Waktu dan Masa Lalu

Nuhmoo bogoshipeundeh
Jungmal bogoshipeundeh
I miss you a lot
I really miss you

Uhddukkeh jeeneh neunjeeh
goonggoom hajimahn
sarang hahneekkah
saranghe tsseuneekkah
How you are doing
I’m curious
Because I love you
Because I loved you

Ku tatap layar televisiku, lagu itu mengalun dengan lembut, menusuk, merasuk dalam sukmaku. Aku terdiam dan tersenyum, aku tau rasanya, aku tau benar seperti apa rasanya. Merindukan seseorang sekaligus mendoakan yang terbaik buat mereka. Tapi itu kemarin, itu dulu, itu tahun-tahun yang telah berlalu. Aku orang baru sekarang, aku orang yang optimis saat ini, aku orang berbeda. Ku ulangi lagi berulang-ulang kalimat penyemangat dan pemompa kepercayaan diri yang di berikan Dr. Mira padaku. Dr. Mira adalah orang yang membantuku melewati masa-sulit ketika aku terpuruk. Sahabat sekaligus dokter pribadiku.

Memar juga akan berubah warna menjadi kecoklatan dan menghilang dalam beberapa hari. Yah.. hanya waktu yang dapat menyembuhkan semua luka. Aku percaya pada keajaiban waktu, aku percaya pada prinsip bahwa besok pagi semua akan baik-baik saja. Aku percaya pada itu semua, segala sesuatu hanya membutuhkan waktu. Akupun akan kembali menjadi diriku sendiri, hanya waktu yang aku butuhkan. Bukan kah selalu begitu? Satu kata waktu

Dan waktu juga yang telah menghadirkan sosoknya dalam kehidupanku. Aku masih bisa mengingat suara tawanya, melihat bagaimana bibir itu tertarik ke dua sisi ketika dia tertawa. Atau penekanan beberapa kata yang selalu dia ucapkan, semua kebiasaannya. Suaran seraknya ketika dia terbangun, bahkan suara kerasnya ketika marah, kemarahan yang terkadang akan berakhir dengan suara tawa kami berdua. Dia tidak bisa marah, yah.. dia tidak pernah benar-benar memarahiku meski aku mengamuk, meski aku memakinya, meski aku berteriak. Dia hanya akan menarikku, memelukku dan menghapus air mataku sampai senyum kembali hadir di mata dah hatiku.

Lihat kan? Aku bisa mengingatnya tanpa merasa tersakiti, aku bahkan bisa tersenyum mengingatnya. Aku sudah bisa melihat foto-foto itu tanpa air mata. Kau selalu mengatakan “kau amat mencintaiku, dan takkan bisa hidup tanpaku” padaku sambil tertawa, di sela acara becandamu dan aku akan membalas “aku bisa hidup tanpamu, dan aku akan baik-baik saja karena itu” see.. sekarang aku baik-baik saja. Aku bisa membuktikan kata-kataku dulu padamu benar. Bukan begitu?

Ku usap keringat dingin di atas pelipisku, udara terasa panas menyengat. Panas yang menusuk kalbuku. Kau selalu mengatakan bahwa kau akan tetap selalu berada di sampingku, mendampingi kecerobohanku, kau siap berkorban untukku, menghalau segala rasa sepi dan kepedihanku. Kau bersedia mati untukku, bukan kah itu janji manis yang selalu kau ucapkan padaku? Aku senang mendengarnya. Kau adalah perayu sejati, bahkan mungkin para penyair juga akan merasa tidak berdaya jika harus bertding denganmu. Aku kembali tersenyum, kau tau kelemahanku, kau tau titik kelemahanku. Kau selalu tau setiap kata yang tepat untuk memujaku.

Ku ingat lagi pertemuan pertama kita, ketika gelas kopiku tidak sengaja mengenai setelan mahalmu, ketika kemarahanmu menghantamku, dan ketika tiba-tiba kau menarikku sambil berkata “kau harus bertanggung jawab, menikahlah denganku”. Aku yang hanya bisa terdiam dan tercengang, aku yang hanya bisa mengedipkan mataku beberapakali. Taukah kau, aku terpana pada kemarahanmu, aku terbius oleh aroma tubuhmu yang bercampur kopi latte kesukaanku, indraku lumpuh, aku tidak bisa merasakan apapun selain kehadiranmu di hadapanku. Oh indahnya saat jatuh cinta..

Ku buka lagi kardus di hadapanku, ku ambil sebuah bingkai foto berukuran 5R. kupandangi kembali wajahmu, senyum ramah yang sama, senyum yg selalu membuat semua sendiku meleleh, senyum yang membuat perutku menegang dan jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Kau selalu tersenyum di hadapanku, kau tidak pernah mengeluh menghadapi emosiku yang bisa di bilang tidak stabil, bahkan kau rela tidak terlelap selama dua hari ketika aku di serang demam, kau tidak pernah mengeluh sedikitpun dan aku selalu meyakini kau hanya mencintaiku, seperti janjimu.

Bodoh, kata itu yang selalu terngiang di telingaku. Ternyata aku memang manusia bodoh, manusia naïf yang tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata. Ku berikan seluruh hidupku padamu, kugantungkan semua cita-citaku padamu, kuberikan seluruh kehidupanku. Dan apa yang tersisa setelah kau mengambil semuanya dariku? Harus ku tanyakan pada siapa apa yg tersisa dalam diriku? Harus ku cari kemana segala yang telah hilang bersamamu? Aku harus bagaimana? Kenapa kau tidak menyisakan sedikitpun untukku? Kenapa kau harus mengambil semuanya?

Kepalaku terasa berat ku masukkan kembali foto berbingkai itu kedalam kardus dan menutupnya. Mengucapkan selamat tinggal pada masalaluku.

* * * * * * * *

#Di hari minggu yang panas menyengat

Advertisements

3 Comments

  1. uly said,

    June 22, 2009 at 7:37 am

    keren is..

    ies : sankyyuuu… ulyy…

  2. mermajessty said,

    June 22, 2009 at 4:11 pm

    i love it, remain me with someone :((

    btw ini mer 😀

    Ies : cie.. cie… sapa tu… hehehehe

  3. Anna nandili said,

    June 22, 2010 at 6:13 am

    Keren , keren . Tulang ku merinding .
    hehehe . I like it .

    Ies : makasiiihhh.. sering2 mampir ya 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: