Angels Death Part III

“Dia Hamil, usia janin nya sekitar 4 minggu” Reza membolak-balik hasil otopsi yang dia peroleh dari Dr. Tania Hart pagi tadi

“Dr. Tania bilang dia akan melakukan test DNA pada si Janin, jika memang janin itu anak Mike Gun, itu bisa di jadikan motivasi kenapa Gun ingin menyingkirkan Nania Brown dari kehidupannya”

“Karena Gun tidak menginginkan bayi itu?” Potong Jason cepat

“Aku mendapat kesan bahwa kau berniat menjadikan Gun sebagai tersangka tunggal kasus ini Rez?” Jason Menambahkan

“Semakin cepat kasus ini di selesaikan semakin baik bukan? Kita bisa beristirahat dan kau bisa kembali mengencani gadis-gadis pirangmu” cetus Reza Jengkel

“Wow… sepertinya aku menagkap nada cemburu di sini” Jason terssenyum lebar menggoda Reza

“Tidak terimakasih Mr. Smitt!” seraya membungkuk seperti adegan film lama yang sering Reza tonton

“hahaahahaha..” Jason tertawa semakin lebar

“Selain itu, alibi yang di berikan Gun malam itu agak membuatku bingung, dia mengatakan ada pohon besar yang tumbang di dekat apartemen Nania Brown, tapi begitu kita menyisir tempat tersebut, tidak ada satu pohon besarpun yang tumbang”
Reza resah memandang rekan nya yang sangat kompeten itu bimbang, antara realita dan keyakinan bahwa sahabatnya tidak mungkin melakukan pembunuhan sekeji itu. Tapi demi Tuhan, tugas dia dan Jason adalah menangkap pembunuh itu secepatnya. Tidak perduli itu sahabat atau keluarga mereka sendiri. Apalagi sekarang pembunuhan ini menjadi pembunuhan ganda, Nania Brown dan Janinnya. Pers akan sangat kegirangan mengetahui hasil otopsi ini.

“Jika benar terbukti Gun sebagai pembunuh Nania Brown, apa kau akan bisa bersikap netral? Atau haruskah dari sekarang aku meminta Charlie menarikmu dari kasus ini?” desak Reza

“Yang benar saja, dan melewatkan bagian interview secara live? Jangan harap Rez” Jason nyengir seraya meniggalkan ruangan Reza, menutupi rasa kecewa karena Reza juga meragukan dedikasi dan kesetiaannya.

“Jason” panggil Reza cepat sebelum laki-laki itu mencapai pintu

“Ya?” jawab Jason seraya membalikkan badan memunggungi pintu

“Maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud… kau tau… mempertanyakan dedikasimu” permintaan maaf selalu berhasil membuat Reza tergagap

“Hmmmm….. Kau harus berkencan denganku, baru aku akan mempertimbangkan permintaan maafmu” cengiran di wajah Jason semakin melebar

“Hahaha…. Tidak lucu!” Reza menanggapi ejekan Jason

“Sebaiknya kita menghubungi pengacara Mike Gun dan memberi tau tentang temuan kita ini” seru Reza begitu Jason sudah setengah keluar dari kantonya

“Tugas itu aku serahkan padamu” Jason bergumam sambil menutup pintu ruangan itu

“Ada apa dengannya?” Reza kebingungan menghadapi rekannya yang tiba-tiba menegang mendengar kata pengacara Gun, ah entahlah banyak tugas lain yang membutuhkan pikiran dan tenaganya sekarang.

* * * *

Mike Gun sangat terguncang mengetahui bahwa Nania sedang mengandung anaknya pada saat pembunuhan brutal itu menimpa dirinya. Anaknya, darah dagingnya, meski dia tidak mencintai Nania dia bersedia menikahinya agar anaknya tau bahwa dia sangat mengharapkan kehadirannya di dunia ini. Dia tidak mau anaknya beranggapan bahwa dia adalah anak yang tidak di inginkan kedua orang tuanya, meski Gun sangat yakin Nania bukan tipe wanita yang mengharapkan kehadiran seorang putra. Gun akan meyakinkan putranya bahwa ayahnya sangat menginginkan kehadirannya di dunia, tidak seperti orang tuanya sendiri. Dia bukan lagi anak kecil yang meringkuk di pojok ruangan begitu kedua orang tuanya ribut, menerima semua cacian yang di lontarkan ibunya. Menerima semua kesalahan yang di bebankan di pundaknya hanya karena dia terlahir ke dunia. Terkadang hal itu masih menjadi beban baginya.

Tapi itu semua sudah terlambat, bukankah begitu? Semuanya sudah di luar kuasanya Nania sudah meninggal demikian juga anaknya. Dia meneguk habis isi gelas berisi brendi dan entah campuran apa lagi yang di buat Andrea Bowning asistennya itu tapi rasanya sangat melegakan. Dia sedang berduka demi putranya dan Andrea adalah orang yang paling mengerti dirinya, asisten pribadi yang di pekerjakan Andrew Swift managernya untuk mengurus semua kepentingan Gun. Bahkan janji kecannya pun Andrea yang selalu mengaturnya, memastikan setiap wanita yang Gun kencani mendapatkan bunga pada saat ulang tahun. Padahal Gun sendiri tidak ingat dia pernah berkencan dengan siapa saja.

Gun sangat berhutang budi pada Andrea Bowning, wanita yang menurutnya cukup manis itu. Sayang Andrea adalah wanita pendiam yang selalu menutup semua kelebihannya dengan pakaian konservatif, rambut di sanggul dan kacamata berbingkai tebal. Menutup asset berharga yang di miliki wanita itu. Entah lah, Gun sering merasa Andrea menarik diri dari semua hal yang menyangkut kehidupan pribadinya.

“Mr. Gun, apa anda membutuhkan sesuatu yang lain?, kalau tidak saya berniat untuk pulang dan beritirahat” Andrea wanita ramping berkaca mata tebal itu berdiri di samping sofanya

“Tidak, Andrea pulanglah dan beristirahat. Besok aku ada jadwal pagi bukan?” Gun berkata tanpa menatap wanita itu

“Iya, anda ada jadwal pukul 10.00 pagi Sir, dan sebaiknya anda tidak mabuk malam ini. Iklan ini membutuhkan tampilan segar wajah anda” Andrea menambahkan

“Akan aku usahakan, pergilan Andrea nikmati malammu” sambil menggerakkan tangan Gun menyuruh asistennya pergi

“Selamat malam, Sir” Andrea meningaggalkan ruangan besar di rumah Gun
Belum sempat Gun membalas ucapan selamat malam Andrea, wanita itu sudah kembali dari ruang tamu dengan seorang wanita manarik di belakangnya

“Sir, Miss Isabella Cullen ingin menemui Anda” seraya menoleh ke arah wanita muda di sebelahnya

Gun tidak menjawab, dia dalam keadaan setengah mabuk. Dia hanya mengalihkan tatapan matanya dari gelas yg dia pegang ke arah wanita muda yang mengenakan jubah merah marun.

“Selamat malam, Gun!” suara wanita yang bernama Isabella itu serak

“Miss Cullen, lama tidak berjumpa” Mike Gun berdiri dan menggenggam tangan Isabella dan membawanya ke mulut keras laki-laki itu

“Kau terlihat tampan seperti biasanya” Isabella tersenyum manis padanya

Gun memeluk wanita muda itu, dan berbisik serak ke wanita itu

“Menginaplah di rumahku”.

Kemudian keduanya meninggalkan ruang baca dan melangkah ke lantai atas, tempat kamar tidur Mike Gun Berada

* * * * * *

Isabella Cullen, sekarang merasa menjadi artis paling berjaya di negeri ini. Selama ini dia selalu di anggap sebagai orang kedua, tentu saja setelah Nania Brown. Tapi lihatlah sekarang semua hal yang memang seharusnya menjadi miliknya dalam waktu satu malam benar-benar menjadi miliknya. Hal ini tentu saja menyebabkan Letnan Powell dan Smitt mencurigainya, tp malam itu alibinya cukup kuat, ada orang lain yang bisa menjadi saksi keberadaannya. Sekarang semuanya sangat memuaskannya, dia berduka untuk Nania Brown tentu saja tapi hal itu tidak akan mengganggunya dengan segala keberuntungan yang menyertainya. Gelar nomor satu dan Mike Gun tentunya, mungkin dia malah harus berterimakasih pada siapa saja yang telah melenyapkan Nania Brown, gadis sombong itu dari hidupnya.

Dia ada jadwal pengambilan gambar untuk sebuah film yang akan dia bintangi pukul 09.00 pagi, dan disanalah dia sekarang rumah pribadinya di kawasan elite memanjakan diri sendiri, setelah semalam akhirnya dia bisa kembali ke pelukan Mike Gun sebagaimana mestinya.

Saat ini semua hal di mata Isabell teramat sangat membahagiakan. Bersantai di bathup berukuran besar dengan wewangian aroma terapi khusus perawatan kulit, mengenang percintaannya dengan Gun semalam, tawaran iklan yang dia peroleh, dan yah…dia benar-benar orang paling beruntung di dunia.

Bel pintu yang berdering menyadarkan Isabell dari lamunannya. Angela wanita muda berusia awal 20 an yang bertanggung jawab membersihkan rumahnya baru akan datang pukul 09.30, dia tidak suka jenis pelayan full time, jadi dia mempekerjakan Angela Patterson paruh waktu, dia tidak suka berbagi hidupnya dengan orang lain termasuk pelayan full time. Dengan sangat terpaksa Isabella mengambil jubah kamar nya dan melangkahkan kakinya ke pintu depan. Begitu melihat siapa yang datang, senyum bahagia merekah di bibir manis Isabell. Gun benar-benar akan kembali padanya, dia yakin sekali. Seraya menepi memberi tamunya ruang untuk melangkah memasuki rumah besarnya. Sepi….., tamunya tidak mengatakan apapun, belum setidaknya.

“Pagi sekali kau datang, aku tidak menyangka secepat ini setelah semalam…” kata-kata Isabell berhenti di bibir ketika melihat benda yang di keluarkan tamunya itu. Belati panjang, Nania Brown di duga di tikam menggunakan pisau atau belati panjang itu yang di katakana Mr. Smitt padanya. Isabell berbalik dan berniat berlari ketika tiba-tiba benda tajam itu manancap di punggungnya, dia terjatuh, menjerit, meronta tapi tamunya jauh lebih kuat, jauh lebih bertenaga. Orang itu menindih tubuh Isabell, menekan dadanya wanita itu ke karpet tebal ruang tamunya. Megap-megap berusaha mengambil nafas, Isabell berusaha sekuat tenaga membalikkan badan dan dengan senang hati orang itu membantu usahanya. Dengan tubuh terlentang, Isabell berusaha membebaskan diri dari cengkraman orang itu. Tapi usahanya sia-sia tentu saja belati itu menancap tepat di jantungnya, darah merah segar terpompa keluar dari tubuhnya, dia masih melihat itu semua, dia masih merasakan sakitnya, dia masih melihat orang yang dia percayai selama ini menancapkan belati itu berkali-kali ke tubuhnya, ekspresi kosong dan darah segar di wajah lawannya, sampai semua hal di sekelilingnya menjadi gelap.

* * * * *

Konfrensi pers sudah seperti yang Reza duga sebelumnya, kacau bahkan bisa di bilang menghebohkan. Kabar bahwa Nania Brown dalam keadaan hamil pada waktu terbunuh menambah semarak jumpa pers pagi ini. Semua bertanya apakah sudah di pastikan bahwa anak itu adalah anak Mike Gun dan apakah laki-laki itu terlibat bahkan menjadi tersangka dalam pembunuhan ini. Reza sebagai kepala penyelidik kasus ini hanya bisa menjawab bahwa semua sedang dalam tahap penyelidikan, dan ya, bayi itu adalah anak Mike Gun. Jumpa pers selalu membuat Reza gugup, dia sangat beruntung dengan kehadiran Jason yang telah terbiasa dengan kamera sejak kecil. Dan mengingat latar belakang keluarga Smitt, Reza tidak terkejut ketika melihat betapa percaya dirinya laki-laki itu di hadapan semua wartawan yang memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan dan kamera. Diam-diam Reza selalu mengagumi sisi ini dalam diri Jason, dan secara mengejutkan rasa percaya diri Jason selalu berhasil menular padanya.

Dia sedang berada dalam kantor kecilnya ketika kode merah berbunyi, yang berarti terjadi pembunuhan di luar sana. Bergegas keluar dari ruangannya, Reza bertemu dengan rekannya Jason di lorong kantor kepolisian itu.

“Ada apa lagi sekarang?” kata Jason bersungut-sungut. Kode merah tadi memutus pedebatan sengitnya dengan Nency via phone.

“Kau kesal sekali, ini kan sudah bagian dari rutinitas kita sebagai polisi” ejek Reza sambil menyikut perut Jason pelan

“Semoga saja sesuatu yang bagus!” dengus Jason

Mereka tiba di lokasi kejadian lima belas menit kemudian, begitu mereka melihat TKP. Bisa di pastikan seratus persen, kejadiannya sama persis seperti yang di alami Nania Brown. Sesosok wanita cantik seperti boneka poselen china yang di atur sedemikian sehingga seperti malaikat yang berdoa berbaring terlentang tengah tempat tidur berukuran king berwarna merah darah. Selang lima menit berlalu tim forensik yang di pimpin oleh Dokter Tania Hart, datang dengan segudang peralatannya. Secepat kilat mereka langsung menyiapkan semua peralatan, memeriksa setiap detail tanpa melewatkan sedikit celahpun, berharap sang pembunuh meninggalkan jejak kali ini.

Isabella Cullen di temukan meninggal karena tusukan di dada, orang awam saja bisa melihat kemiripan modus pembunuhan ini dengan kasus Nania Brown. Malaikat yang sedang berdoa, apakah ini pembunuh yang sama? Ataukan hanya pembunuh iseng yang ingin memarakkan kasus Nania Brown? Itu adalah tugas nya untuk menuntaskan kasus ini secepatnya. Miss Cullen di temukan oleh pelayan part timenya, dan sekarang Reza sedang meminta keterangan dari wanita muda yang berusia sekitar awal dua puluahan tersebut.

“Miss Patterson, apakah anda melihat hal yang mencurigakan begitu anda tiba di rumah ini?”

“Oh, panggil saja saya Angela. Miss Isabell memberi saya kunci duplikat rumahnya. Biasanya setiap pagi dia sudah berada di lokasi syuting, entah untuk iklan ataupun film saya kurang tau. Tugas saya hanya membersihkan rumah miss Cullen, mengganti seprai dan hal-hal lainnya” Suara Angela sedikit bergetar karena gugup dan shock yang dia derita.

“Seperti biasa kunci depan masih terkunci, saya masuk dan tidak melihat hal-hal yang aneh di ruang depan. Begitu saya memasuki ruang tengah, tepat di depan kamar miss Isabell saya melihat genangan darah, di atas karpet Persia yang selalu saya bersihkan setiap hari karena miss Isabell sangat alergi debu” Angela terdiam, dia mencoba mengingat setiap detailnya takut melewatkan hal-hal kecil. Tetapi harus mengingat kembali hal yang sangat menakutkannya setengah jam yang lalu sangat tidak mudah

“Begitu saya memasuki kamarnya, saya melihat.. saya melihat…” air mata Angela mengalir di pipinya

“Miss Angela bukan orang yang ramah, terkadang bisa sangat cerewet mengenai kebersihan, bukan hanya karena dia alergi debu, dia juga tidak menyukai segala jenis pelanggaran privasi, dia tidak suka saya mengomentari apapun mengenai tidak tanduknya ataupun gayanya. Tapi saya memang di gaji hanya untuk membersihkan rumahnya” Suara Angela makin tercekat

“Tapi saya bisa melihat betapa dia sangat kesepian dan terkadang dia juga berubah sangat baik pada saya, yang hanya pelayan part timenya, saya tidak pernah berharap melihat dia akan begitu.. begitu… damai dalam tidur panjangnya” isakannya kini telah pecah menjadi sedu-sedan.

“Anda melihat wajah miss Cullen secara dekat Angela?” Reza bertanya penuh selidik. Reza sedikit heran, untuk ukuran orang yang sangat terguncang wanita ini berani melihat mayat Isabella Cullen secara dekat

Angela menggangguk singkat sambil menyesap brendi yang ada di tangannya
“Saya hanya ingin meyakinkan diri bahwa itu benar-benar miss isabell, terkadang dia suka berlatih suatu adegan di rumahnya. Terkadang saya juga membantunya menghafal dialog”

“Wow… hubungan kalian sedekat itu?”

“Saya hanya melakukan apa yang di minta miss Isabell, dan selama itu tidak bertentangan dengan prinsip saya, saya takkan keberatan” Angela membersit hidungnya dengan tisu

“Dia pernah menyuruh Anda melakukan hal yang bertentangan dengan prinsip Anda?”

Angela menggeleng

“Anda bilang, bahwa pintu depan masih dalam keadaan terkunci. Apakah anda melihat kunci rumah milik miss Cullen?” Reza mengalihkan pertanyaannya.

“Belum, saya belum melihat kunci itu. Biasanya miss Isabell selalu menggantung kuncinya di dekat pintu depan. Tapi saya tidak melihatnya tadi”

Berdasarkan keterangan dari Angela, Reza memerintahkan anak buahnya untuk mencari kunci pintu dengan gagang tempurung penyu berwarna coklat. Selang beberapa menit kemudian kunci di temukan di atas pot bunga di depan rumah. Jelas terlihat pembunuhnya mengunci pintu depan dengan kunci itu dan membuangnya begitu saja di dalam pot bunga. Dan bagaimana pembunuh itu bisa masuk ke dalam karena jelas tidak terlihat kerusakan di jendela dan pintu itu sendiri. Satu kesadaran penting mengguncang Reza, Miss Cullen mengenal pembunuhnya, mengundangnya masuk dengan suka hati.

* * * *

“Isabella Cullen, kita baru mengintrogasinya kemarin siang. Dan aku belum sepenuhnya yakin wanita bukan tersangka kita untuk kasus Nania Brown” Reza mengungkapkan pemikirannya ke Jason yang tengah asik memeriksa laci-laci di ruang baca rumah Isabell setelah Reza mengungkapkan kemungkinan yang dia pikirkan tadi.

“Sekarang kau pasti yakin wanita ini bukan tersangkanya, bukan begitu?” Jason bergumam seraya memeriksa laci-laci itu jauh ke dalam, dan berhenti ketika tangannya menyentuh sesuatu, seperti buku kecil berwana hitam. Jason mengeluarkan buku itu keluar dan dengan pandangan nanar membuka halaman pertama buku tersebut. Melihat ekspresi Jason yang sedikit menegang reza berjalan mendekat

“Apa yang kau temukan?” Reza melangkah mendekati Jason.

“Sepertinya wanita ini gila!, dia mencatat siapa saja laki-laki yang pernah di ajaknya tidur! ” Jason menyerahkan buku itu ke tangan Reza

“Kau tidak akan menyangka menemukan nama-nama yang sering menghiasi hampir semua bagian surat kabar negeri ini!” Jason menambahkan sambil menyerngit ngeri

“Dan adakah namamu di sana?” selidik Reza

“Jangan harap, aku tidak menyukai kencan kilat. Tapi aku bisa membuat pengecualian untukmu Rez” Senyum jahil kembali terpampang di wajah Jason

“Bermimpilah!” Reza membalas senyuman Jason dan kembali membaca nama-nama yang tertera di buku kecil itu. Sungguh ironis, hampir semua orang penting negeri ini pernah tidur dengan Isabella Cullen. Bahkan para tokoh yang selalu mengagung-agungkan kehidupan monogami dan membangga-banggakan kehidupan rumah tangganya. Mungkin inilah bentuk monogami modern saat ini, satu istri tapi banyak selir. Memuakkan!

“Lihat ini, nama siapa yang bisa aku pastikan juga berhubungan dengan Nania Brown”

“Mike Gun, tapi itu bukan berarti… “ Jason menyela Reza

“Aku tau, dan lihat ini. Di sini di tulis bahwa Mike Gun adalah orang terakhir yang di ajak Isabell untuk behubungan karena nama Gun adalah nama terakhir di buku ini. Dan tanggalnya adalah tepat semalam”

“Kita akan menanyakan keberadaan Gun pagi ini. Tapi bukan berarti dia menjadi tersangka hanya karena orang terakhir yang ditemui Isabell kebetulan adalah Gun” Jason terlihat khawatir akan kebebasan sahabatnya itu

“Bukan kebetulan, lihatlah nama Gun banyak tertera jauh sebelum ini. Dan semuanya berhenti tepat tiga bulan yang lalu. Tepat ketika Nania Brown melangkah masuk dalam kehidupan Mike Gun!” Reza kembali menekuni nama-nama di buku itu

“Cinta segitiga?”

“Oh andaikan kita menemukan buku ini sebelum Isabell menjadi korban, sudah bisa ku pastikan kau akan menjadikannya tersangka, bukan begitu Rez?” Jason menatap Reza penuh tanda Tanya

“Sayang sekali, dia juga menjadi korban dan hanya satu nama yang bisa ku sangkutkan antara miss Brown dan miss Cullen. Mereka sama-sama berhubungan dengan Mike Gun!”

“kita akan memanggil Gun kembali ke ruang introgasi secepatnya!” Jason berusaha meyakinkan Reza.

Reza tidak yakin apakah tindakannya meminta atasannya Charlie untuk tetap mempertahankan Jason pada kasus ini tepat. Jason pasti akan sangat tertekan harus memilih antara dedikasinya pada pekerjaan atau dedikasinya pada sahabatnya itu. Jason bilang padanya bahwa Mike Gun hanyalah teman satu klub kebugaran dengannya, tapi dari atasannya Charlie, dia bisa mengetahui bahwa hubungan mereka lebih dari itu. Mike Gun adalah sahabat baik Jason Smitt selama bertahun-tahun. keluarga Smitt dan keluarga Gun sudah menjalin relasi bisnis selama ratusan tahun yang lalu. Meski dibesarkan dengan cara yang sama dan dengan wajah yang sama-sama rupawan mereka memilih jalan yang amat sangat berbeda. Reza mengagumi kenyataan bahwa mereka masih bisa berteman baik saat ini.

“Pola sama, dengan belati yang sama, bahkan jumlah tusukannya pun sama, 99 tusukan. Entah apa maksud angka 99 tersebut, tapi yang jelas kedua korban sama-sama meninggal karena luka tusuk di jantung, menyebabkan arteri utama pecah” Suara Dr. Tania menyadarkan lamunan Reza

“Kedua korban juga di posisikan sama persis, letak tangan dan posisi kaki” Dr.Tania menambahkan

“Keduanya bukan di bunuh di atas tempat tidur bukan?, tempat tidur hanya di gunakan sebagai sarana pelengkap kegilaan laki-laki tersebut” Reza menambahkan

“Bagaimana kau bisa berkesimpulan bahwa dia laki-laki Rez?” Tanya Jason meski dia tau dari mana pemikiran itu berasal.

“Betul, keduanya tidak di bunuh di atas tempat tidur. Dan sepertinya pembunuh kita ini menyukai ruangan yang penuh akan darah. Jelas terlihat dari banyak nya cipratan darah di dalam ruangan, memberi kesan seolah-olah dia membawa si korban berkeliling ruangan sehingga meninggalkan banyak genangan darah di mana-mana. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang yang kalian cari adalah laki-laki, tetapi perempuan dengan tenaga besar juga bisa di masukkan dalam daftar” Tania menyela sebelum Reza bisa menjawab pertanyaan Jason.

“Kami akan membawa Isabell ke lab, dan akan memberitahukan hasil otopsi lanjutan pada kalian” imbuh Tania cepat seraya meninggalkan ruang baca tersebut

“Sungguh aneh, dengan semua kekayaan dan ketenaran yang di miliki Isabell. Tidak satupun aku melihat kamera keamanan di rumahnya” Jason sudah memeriksa detail rumah ini dan tidak menemukan satupun kamera tersembunyi di sini, seandainya saja dia mau memasang kamera, mungkin sekarang dia sudah bisa mengetahui siapa tamu yang datang berkunjung pagi-pagi ke rumah ini.

“Itu berarti, kita harus keliling dan menanyakan tetangga Isabell. Siapa tau kita beruntung ada seseorang yang melihat tamu yang mengunjunginya pagi ini ” Reza berjalan menuju pintu depan dengan cekatan

“Meski ada kamerapun, prosedur ini memang wajib untuk di lakukan” Jason mengekor di belakang Reza

* * * * *

Kepalanya berdenyut sangat sakit, dia benar-benar mabuk semalam. Hal terakhir yang Gun ingat adalah Andrea yang mengantarkan Isabell, wanita muda berambut gelap yang pernah dia kencani dulu. Selalu banyak wanita dan sedikit waktu, dia ingat pernah beberapa kali berhubungan dengan Isabella Cullen dan semuanya berhenti setelah Nania berusaha meyakinkannya bahwa dia bisa mendapatkan kesenangan hanya dengan satu wanita. Meski awalnya dia sangat tidak yakin dengan pemikiran itu, dia tetap berusaha mencoba. Tidak ada salahnya untuk mencoba pikirnya waktu itu.

“Tok.. tok .. tok “ Ketukan di pintu mengagetkannya.

“Masuk” Dia belum sempat ke kamar mandi dan mengenakan pakaiannya jadi dia hanya menutup tubuh telanjangnya dengan seprai kusut

“Pagi sir, anda sudah bangun? Kita ada pemotretan pukul 10 pagi” Wajah Andrea tampak tersipu melihat ketelanjangan Gun. Gun hanya menutup setengah badan telanjangnya, laki-laki itu berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Bagian dada telanjangnya terpampang jelas, setiap wanita yang melihatnya dalam keadaan seperti itu pasti akan tergagap tak berdaya. Dan yah.. Andrea Bowning memang hanya wanita biasa.

“Kepalaku sakit Andrea, pukul berapa sekarang?” Gun menyerngitkan kedua alisnya

“Sekarang pukul 9.45 sir, dan ini saya bawakan minuman hangat untuk Anda” Andrea melangkah mendekati tempat tidur Gun dan menyerahkan gelas yang berisi minuman entah campuran apalagi itu tapi lagi-lagi terasa melegakan.

“Anda harus bergegas, kalau tidak Mr. Swift akan memarahi saya”Andrea melangkah meninggalkan kamar tidur Mike Gun.

Gun memasuki kamar mandi, berharap air dingin dapat menyegarkan badannya. Tidak adalagi waktu untuk berduka, hidupnya tidak di dedikasikan untuk itu. Gun tidak mau memikirkan apapun hari ini, dia akan berkonsentrasi pada kariernya selalu hal ini yang dapat mengalihkan pikirannya. Dia mengacuhkan bunyi telp yang berdering, hanya berkonsentrasi pada apa yang sedang dia kerjakan saat ini. Begitu dia meninggalkan kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, terlihat wajah cemas Andrea di kamar nya.

Dengan gugup dan cemas Andrea mengabarkan bahwa Isabella Cullen meninggal, lebih tepatnya di bunuh di rumahnya pagi ini. Baru saja Andrew Swift manager Mike Gun mengabarinya lewat telepon, memberitahunya bahwa pemotretan di batalkan dan Gun di panggil pihak kepolisian. Tentu saja karena dia adalah orang terakhir yang bertemu dengan Isabell, berbagai pemikiran berkecamuk dalam benak Gun. Dia tidak mengingat apapun semalam setelah Andrea meninggalkannya, bahkan kapan Isabell pergi dari rumahnya pun dia tidak ingat. Tapi itulah gunanya kamera keamanan, ada satu kamera di rumahnya. Gun berharap kamera itu dapat menjadi alibinya saat itu. Dia meminta Andrea untuk mengabarkan hal ini ke Nancy Hunt dan meminta kehadiran wanita itu mendampingi Gun di ruang interogasi nanti.

* * * * *

Perkembangan kasus ini sangat lamban, Reza sedang berada di kantornya mencoba menguraikan semua petunjuk yang di miliki. Dua hari berturut-turut dan dua aktris terkenal meninggal secara brutal, di bunuh dengan cara yang sama dan kemungkinan juga oleh orang yang sama. Sejauh ini hanya Mike Gun yang menjadi hubungan antar korban dan dunia entertain tentu saja. Isabell dan Nania bahkan bisa di bilang selalu bermusuhan, selalu berusaha menjatuhkan satu sama lain, kira-kira siapa yang bakal di untungkan dengan semua hal ini? keadaan semakin tidak terkendali, pers terus mendesak pihak kepolosian. Sementara hasil otopsi Isabell akan keluar sekitar setengah jam lagi. Selain itu tidak ada petunjuk lain, tidak ada sidik jari dan jelas-jelas tidak ada unsur pemaksaaan, kedua korban mengenal pembunuh ini dan mereka membiarkan nya masuk ke dalam rumah dengan suka rela. Dering telephon, membawa Reza kembali ke kenyataan. Charlie Cross atasannya, meminta dirinya menghadap.

Ruangan Charlie Cross tidak terlihat jauh berbeda dari ruangan Reza sendiri, hanya telihat lebih luas sedikit. Jason Smitt sudah duduk di depan meja sang atasan. Charlie Cross adalah detektif senior, dia yang telah mendidik Reza dan Jason hingga setangguh sekarang. Usianya menginjak akhir 50 an, tapi badannya masih terlihat segar bugar sepertinya duduk di belakang meja tidak mengurangi kegiatan fisik laki-laki itu di luar kantor kepolisian.

“Aku ingin tau perkembangan kasus ini, sekarang!” gertak Charlie sambil menatap Reza dan Jason secara bergantian seolah-olah mereka adalah sang tersangka

“Sejauh ini hanya itu yang kami temukan, semuanya sudah saya tulis dan laporkan kepada Anda, Sir!” Reza bahkan tidak terlihat gugup dengan sikap intimidasi Charlie, dan hal ini membuat laki-laki itu senang

“Hanya ini saja?? Apa kau yakin Rez?” Charlie lebih mendesak

“Hanya ini Sir, tidak ada sidik jari dan tidak ada bukti yang tertinggal di TKP!” Jason berusaha membela Reza

“Semuanya hanya memiliki satu hubungan, yaitu dunia entertain dan keduanya sama-sama kekasih Mike Gun” Reza menambahkan

“Ada dua kemungkinan, seharusnya kalian bisa memperoleh lebih banyak informasi hanya dengan dua hubungan itu!!”

Hening tidak ada yang bersuara

“Pers semakin mendesak pihak kepolisian, mereka malah beranggapan bahwa ini adalah pembunuhan berantai, apa yang kalian pikirkan dengan hal ini?” Charlie bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan jendela kecil ruangan itu

“Memang tidak menutup kemungkinan ini adalah pembunuhan berantai, tapi kami tidak berani mengambil kesimpulan ke arah sana” Jason berusaha memecahkan keheningan

“Kami akan memanggil Mike Gun kembali siang ini, dia adalah orang terakhir yang bertemu dengan Isabell dan orang pertama yang menemukan jasad Nania Brown, Angela Patterson orang pertama yg menemukan mayat Isabell. Kami akan menyerahkan hasil interview dan hasil otopsi sore ini di meja Anda” Reza berusaha meyakinkan Charlie

“Selain itu kami juga akan menghubungi kepolisian federal untuk mencari tau apa di luar sana ada pembunuhan yamg mempunyai kemiripan dengan pembunuhan di sini” Jason menambahkan

“Bawa serta Dr. Hart bersama kalian siang ini, selain tim forensik dia juga mempunyai gelar Ph.D dibidang psikology, semoga dia bisa membantu kalian” Charlie memberi isyarat bahwa dia sudah selesai dengan mereka dan siap menerima laporannya sore ini.

“Siap Sir!” jawab Jason dan Reza bersamaan.

Reza dan Jason bangkit bersamaan dan belum sempat membuka pintu ketika Charlie menambahkan
“Jason, kau yakin ingin tetap dalam penyelidikan ini? Gun adalah sahabat baikmu sementara miss Hunt adalah mantan istrimu”

“Justru karena itu saya ingin tetap dalam penyelidikan ini” Jason berkata tanpa menatap Charlie dan berjalan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Reza dalam keadaan bingung

“Nency Hunt adalah mantan istri Jason?” Reza bergumam

“Kau tidak mengetahuinya? Jason tidak menceritakan apapun padamu Rez? Dia dan Nency menikah saat mereka sama-sama belajar di Harvard dan bercerai sebelum mereka lulus. Dulu Jason belum bertugas di kepolisian dan demikian juga kau!” Charlie menjelaskan kepada Reza

Reza hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan Charlie. Apakah dia salah mengambil kesimpulan tentang Jason? Laki-laki itu jelas terlihat sangat tegang setiap nama Nency Hunt di sebut, dan berusaha tidak menampilkan ketertarikan laki-laki setiap kali berhadapan dengan Nency. Oh.. setiap laki-laki pasti akan tertarik pada wanita itu, dia cantik bahkan mungkin amat sangat cantik tapi sangat dingin. Mungkin tidak berbeda terlalu jauh dengan dirinya pikir reza, dan yang Reza juga berpikir, Nency bukan tipe wanita yang akan di kencani oleh Jason, mengingat selama dia mengenal laki-laki itu hanya wanita berpikiran tumpul yang di kencaninya. Tapi Nency Hunt adalah mantan istri Jason Smitt dan jelas masih ada bias-bias perasaan yang dalam di antara mereka. Apa kesimpulannya tentang Jason selama ini salah? Atau jelas ada yang salah di antara mereka? Mengingat perceraian yang terjadi? Reza tidak akan mencari tau hal itu, tidak sejauh itu tidak berhubungan dengan penyelidikan yang sedang dia jalani. Tapi entahlah nanti..

* * * * *

Berharap mendapatkan sedikit ketenangan, Reza memutuskan untuk pergi ke ruang interogasi sedikit lebih awal. Dia harus menenangkan hatinya yang berdebar liar, memikirkan akan berhadapan dengan Mike Gun dalam waktu kurang lebih setengah jam. Hal itu membuat Reza kalang kabut. Dia tidak pernah merasa ketertarikan yang amat dalam pada setiap laki-laki yang dia temui bahkan yang jelas-jelas dia kencani sebelumnya. Tapi semuanya tidak berlaku pada rasa tertariknya pada Mike Gun, laki-laki itu benar-benar membuat Reza bingung, dia belum pernah merasakan perasaan sedalam ini. Apalagi mengingat Mike Gun sementara ini adalah tersangka utama dan satu-satunya untuk kedua kasus pembunuhan ini, sungguh sangat bijaksana kalau Dia, detektif utama kasus ini dapat berfikir jernih dan logis.

Dia memasuki ruang interogasi tanpa mengetuk terlebih dahulu, membuka pintu dan menutupnya secara cepat. Lampu utama masih di matikan, ruangan itu hanya di sinari cahaya temaram dari jendela kaca besar yang menghadap halaman kantor kepolisian.Ruangan itu hening, sepi, merasa seperti terisolasi dari dunia luar jika kita berada di dalamnya. Tetapi justru karena ruangan itu amat sangat sepi yang menjadi alasan Reza membutuhkan ruangan itu untuk menyendiri saat ini. Reza berdiri di depan jendela kaca besar itu, mengarahkan pandangannya keluar ruangan. Dia tidak begitu menyadari ketika pintu di belakangnya terbuka, dia terlonjak kaget ketika suara pintu tertutup mengagetkannya. Siluet tubuh kekar berbahu lebar berdiri di depan pintu yang tertutup.

“Selamat siang… “ sapa Reza ceria ketika mengira laki-laki itu adalah Jason

Laki-laki itu tidak menjawab sapaan Reza, dia malah melangkah berjalan mendekatinya.

“Kau datang terlalu…” ucapannya terhenti ketika laki-laki itu melihat ke arahnya. Dia merasa amat sangat gembira menyadari laki-laki itu bukanlah Jason tapi Mike Gun. Kegembiraan yang datang tiba-tiba tersebut mengagetkan Reza, Dia sedang memikirkan laki-laki ini ketika menyadari ada orang lain memasuki ruangan itu. Batas antara khayalan dan kenyataan terasa amat sangat membinggungkan. Reza bergeming berusaha menjauhi jendela ketika suara serak laki-laki itu menghentikan langkahnya

“Jangan, kumohon, maafkan aku karena telah mengganggu… “
Suara laki-laki itu menghilang ketika di sadarinya ada sesuatu yang berbeda pada wajah Detektif cantik berambut merah itu.
Gun berjalan mendekati Reza yang terdiam terpaku di depan jendela. Tak ada suara, yang terdengar hanyalah tarikan nafas keduanya yang sedikit memburu. Gun semakin melangkah mendekati Reza, dia berhenti tepat di depan nya. Seolah-olah lumpuh, Reza tidak dapat menggerakkan badannya sedikitpun. Punggungnya menempel pada kaca dingin, sementara Gun berdiri tepat di depannya. Mengamatinya seperti elang, tanpa berkedip, seolah-olah Reza adalah wanita terakhir di planet ini. Reza menjerit kecil ketika tiba-tiba tangan besar Gun menangkap tengkuknya, suara protes yang akan Reza ucapkan menghilang ketika Gun menarik kepalanya mendekat.

Ada sesuatu yang lain pada wajah detektif muda itu, Gun menyadarinya. Ada binar aneh pada kedua mata detektif itu, binar yang dengan sangat cepat berusaha dia sembunyikan begitu mengetahui bahwa yang ada bersamanya saat ini adalah dia bukan Jason rekannya. Gun belum pernah berbicara secara langsung dan hanya berdua dengan miss Powell, sejauh ini pasti selalu ada Jason sahabatnya sekaligus miss Hunt pengacaranya. Gun sendiri tidak yakin bisa terus bertahan dalam logikanya jika di tinggal berduaan dengan detektif Powell. Ada hal-hal yang terkadang tidak bisa di jelaskan dengan akal sehat, karena jelas saat ini dia merasa sangat bersyukur datang ke kantor polisi lebih dulu tanpa Andrea, Andrew maupun Nency. Tetapi pantaskah dia bersyukur? Wanita yang ada di hadapannya ini mungkin satu-satu nya orang yang paling bersemangat menjebloskan dirinnya ke penjara, melimpahkan semua kesalahan padanya, tapi persetan dengan itu semua.. dia ada ada di sini sekarang.

Begitu bibir mereka bertemu Gun tau dia berbuat kesalahan, karena tidak ada yang dapat menandingi kesempurnaan rasa Reza dalam pelukannya. Dia merasa telah merusak dirinya sendiri dengan melakukan ini, tapi demi Tuhan dia sama sekali tidak perduli. Bibir Reza begitu lembut dan panas, seperti sinar matahari, seperti percikan api di musim dingin. Detektif itu terkesima ketika Gun menyentuh bibir bawahnya dengan ujung lidah. Perlahan Reza meletakkan kedua tangannya di pundak Gun, dan kemudian Gun menyadari jemari panjang Reza sudah berada di belakang kepalanya, saling mengait masuk ke rambutnya, mencegah Gun menarik diri. Padahal tak mungkin dia melakukan itu, tidak ada yang dapat membuatnya berhenti, tidak saat ini.

* * * * * *

Dering bel menandakan lift berhenti, dengan sigap Jason memasuki pintu lift yang terbuka. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapati mantan istrinya di dalam lift. Nency cantik seperti biasanya, dengan balutan blazer mahalnya yang pas badan, rambut pajang nya yang terurai indah. Jason gatal ingin mengacak-acak rambut indah Nency. Mereka sering bergelung di sofa di depan perapian sambil mengacak-acak rambut yang lain…. Dulu. Jason menarik nafas panjang dan hal itu tidak luput dari perhatian Nency. Mata wanita itu memicing ke arahnya, entah apa yang ada dalam benak Nency saat ini, sejak dulu Jason tidak pernah bisa menangkap maksud kilatan tajam mata Nency.

“Selamat siang” sapa Jason berbasa basi

“Siang” jawab Nency singkat

“Selalu cantik seperti biasanya miss.Hunt” Jason meneruskan

“Terimakasih, kau juga terlihat tampan seperti biasanya Mr. Smitt” Nency berusaha menjaga debar jantung nya tetap teratur

“Pastinya… pastinya” Jason menjawab sambil memamerkan senyum paling memikatnya

“Dan masih tetap mengencani wanita-wanita pirang pastinya” Nency bergumam, gumaman yang seketika menghapus senyum memikat di wajah laki-laki itu

“Aku tidak punya istri yang menungguku di rumah, jadi apa ada yang salah?” jawab Jason ketus

“Tidak, tentu saja tidak” Nency sedikit menaikkan nada suaranya

Jason menaikkan salah satu alisnya, “lihat kan? Mereka berdua memang tidak pernah cocok satu sama lain, ada saja hal yang akan menarik pertengkaran ke arah mereka” renung Jason

“Kau sendiri masih terlalu sibuk dengan kasusmu, mengejar ketenaran? Karier dan pengakuan dari masyarakat, jadi jangan berusaha memperingatkanku tentang moral kehidupan, silakan berkaca dan liat dirimu sendiri Nency!” pernyataan yang secara sepontan membuat wajah wanita itu memucat

“Orhg… tutup saja mulut bajinganmu itu Jason!” Nency tidak kalah naik pitam

“Mulut bajingan hah? Kau sendiri sangat menyukainya bukan? Aku masih ingat ketika kau…. “

“Hah, bangga benar akan kemampuanmu yang tidak seberapa itu!” Nency memotong perkataan Jason cepat. Matanya berkilat-kilat marah

“Apa maksudmu tidak seberapa?” Jason menangkap siku tangan Nency dengan cepat
“Apa yang kau lakukan? Aku bisa menuntutmu dengan tindak kekerasan kelas…” kata-kata Nency terputus ketika bibir Jason melumat bibirnya dengan kasar.

Ciuman itu di tujukkan untuk menghukum, kasar, brutal tanpa belas kasihan, tapi segalanya berubah setelahnya. Jason memperhalus ciumannya, dan sepertinya Nency juga tak kuasa untuk tidak membalasnya. Jason memeluk tubuh mantan istrinya dengan erat dan tangan Nency bergelung di leher Jason. Mereka terlihat seolah-olah melebur menjadi satu, seolah-olah mereka memang di ciptakan dengan posisi itu. tinggi Jason dan Nency seimbang, bisa di bilang Nency wanita yang jangkung dia bisa mengimbangi tinggi Jason yang mencapai 180 lebih. Mereka berdua sangat terhanyut, sampai tidak menyadari dering bel lift yang berbunyi. Dua orang polisi berseragam, menatap mereka dengan takjub, merasa rikuh dan sedikit kikuk.

“Ehem..” salah satu dari mereka berdehem

Suara itu seketika menyadarkan mereka berdua akan tempat dan apa yang mereka lakukan. Seketika itu juga mereka melepaskan diri satu sama lain. Muka Nency terlihat sangat pucat, sementara Jason berusaha menenangkan nafasnya yang memburu dan berusaha merapikan diri, mengancingkan beberapa kancing kemejanya yang terlepas.

“Oh God!” desis Nency putus asa

* * * * * *

Ruang interogasi siang itu terlihat sedikit aneh, atmosfer yang tidak mengenakkan amat sangat terasa, Reza berusaha sekuat tenaga untuk tetap berkonsentrasi dan menjaga kredibilitasnya. Dia telah mencium seorang tersangka pembunuhan siang ini, lebih tepatnya dicium dan dengan suka rela dia membalasnya, bahkan menikmatinya. Dia akan merasa bersalah pada dirinya sendiri, oh, benarkah dia akan merasa bersalah? Jika di ingat lagi, ciuman tadi terasa amat sangat berbeda.Dia sanksi dirinya akan merasa bersalah.

“Jadi Anda tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang Anda lakukan semalam Mr. Gun?” suara Jason terdengar sangat keras, menyeret Reza kembali ke alam nyata

“Seperti yang saya ceritakan tadi, saya tidak mengingat detailnya dengan jelas, saya sedikit mabuk ketika miss. Cullen mendatangi rumah saya, dan kapan tepatnya miss.Cullen pergi dari rumah saya, saya juga tidak terlalu ingat, pasti saya masih tertidur kala itu” Gun menjawab dengan lancar pertanyaan Jason

“Oh ya, Anda bisa memeriksa kamera keamanan di rumah saya” Gun menambahkan

Reza mengarahkan tatapannya ke rekan nya, seraya menarik nafas panjang Dia berkata “Kamera keamanan di tempat Anda rusak, kamera hanya merekam kedatangan miss.Cullen ke rumah Anda, tapi tidak terdapat rekaman kapan miss.Cullen keluar”

“Mana mungkin bisa begitu? Kamera itu boleh di bilang kamera keamanan yang paling terdepan dan sangat modern” Gun tidak bisa mempercayai begitu saja perkataan detektif wanita itu

“Tapi memang begitu adanya Gun” Jason menambahkan

“semalam dan tadi pagi Anda tidak punya alibi sedikitpun” Reza mengemukakan apa yang ada dalam pikirannya

“Kerusakan pada kamera tidak bisa di jadikan alasan untuk menjadikan Mr. Gun sebagai tersangka!” Nency membela kliennya

“klien saya hanya tidak memiliki alibi semalam karena dia terlalu mabuk, bukan berarti dia pembunuh ms. Cullen dan ms. Brown. Tidak ada bukti nyata, tidak ada sidik jari, tidak ada senjata di tangan klien saya” Nency semakin gencar mengemukakan fakta yang ada di hadapan kedua detektif itu, lebih tepatnya ke arah officer Powell. Dia masih tidak merasa nyaman menatap kedua mata Jason.

“Mr. Gun memiliki motive untuk membunuh ms. Brown, dan kami masih menyelidiki motive apa yang melatar belakangi pembunuhan ms. Cullen!” Reza menaikkan nada suaranya

“Motive? Motive apa yang Anda bicarakan di sini Officer?” tanya Nency

“Miss Brown sedang mengandung bayi yang tidak di inginkan Mr. Gun, tidak menutup kemungkinan…”

“Demi Tuhan, kau pikir aku laki-laki macam apa?!” sebelum Reza sempat menyelesaikan kalimatnya, Gun sudah memotong perkataannya dengan sengit.

Begitulah proses interogasi yang sangat alot siang tadi, Reza menyerang Gun dengan pandangan pribadi, tanpa berdasar pada bukti. Dan memang tidak ada bukti di sana. Dia mendapat masalah, Reza menyadarinya amat sangat menyadari apa yg baru saja dia lakukan. Si pengacara, Ms. Hunt yang cantik langsung menyerang Reza dengan dalih “pencemaran nama baik”. Dia sendirian di ruang interogasi itu tadi, meski ada Jason di sana, Reza masih merasakan kegundahan di mata rekannya itu. “tentu saja dia akan gundah” pikir Reza. Gun sahabatnya dan Nency adalah mantan istrinya. Jelas terlihat masih ada cinta di sana. Haaahhh… cinta?? Reza tidak percaya pada kata itu. meski siang tadi dia sempat merasa di cintai, begitukah perasaan setiap wanita yang bersama Mike Gun? Pantas semua wanita berlomba-lomba untuk dapat bersanding dengannya.

* * * * * *

“Dasar wanita Jalang!!… Sundal tidak tau diri!! Berani benar kau bermain api” sebuah tangan mengusap permukaan selembar foto di atas meja

“kau juga akan mendapat giliranmu, tunggu saja!” desis sesosok bayangan gelap di depan sebuat foto wanita cantik berambut merah yang mengenakan lencana kepolisian.

* * * * *
To be continued part IV

sebenarnya ini part II kalau di FI atau di FB ku yah….

Advertisements

6 Comments

  1. rezaecha said,

    June 24, 2009 at 5:04 am

    oh no oh no…gk bisa komen gw ies hahahaha

    Ies : ehemmm… masih termehek2 ya bu..
    kwkwkwkwkw

  2. June 25, 2009 at 12:18 am

    nice story. 😀

    Ies : sankyuuu… apa di baca semua??? *sedikit tdk yakin* hahaha

  3. June 26, 2009 at 11:16 pm

    tek waca kabeh koh, jel kowe takon apa, mesthi aku ngerti! :mrgreen:

    ies : iya.. iya percaya lah 😛

  4. rezaecha said,

    July 2, 2009 at 8:53 am

    ya gitu dech bu..sudah jangan pake lama lanjutannya. Reza khan lagi merasa indahnya dicintai *alah*

    ies : siaaappp… aku usahakan secepatnya deh ^_*

  5. serenity said,

    July 13, 2009 at 3:55 am

    Ies,
    akhirnya komen jg gw ni.
    Prtama gw pro Jason-Reza lho.
    Tp koq gw skrg pro Jason-Nency..
    Hehe..
    Reza-Gun bikin pnasaran jg..
    Di tnggu y part IV

    Ies : huaaaaa… makasih dah komen 😛
    emang pada lebih dukung Jason – Nency ya? abisan Gun nya terlalu misterius
    padahal main cast nya si Gun *hmpfh*

  6. uly said,

    July 17, 2009 at 7:00 am

    is ketawa deh pas baca melumat hahahaha detail ya bu secara baca HR :p

    ies ulyyy…….. jyakakakaakk.. jadi malu saia [lol]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: