Bluebird winter versi ku

Judul : Bluebird Winter Versiku
Disclaimer : Punya ku eh Linda Howard lah 😛
Genre : Romance
Rating : MA 18+ (Mature Adults Only) *hmpfh*

Main Cast :
1. Derek Taliferro
2. Melissa Kay (Missy) Matthew

Cast Cadangan :
1. Rome Matthew
2. Sarah Matthew
3. Jared (Jed) Matthews
4. Max Conroy
5. Marcie Taliferro
6. Kathleen Fields
7. Ben Lewis

Berikut adalah bentuk ketidak puasanku pada novel Bluebird winter, Sarah Series. Jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat sungguh ini hanya bagian dari cerita, dan tidak bermaksud menyinggung siapapun. Tokoh aku ambil sepenuhnya dari Sarah Series by Linda Howard dan beberapa tambahan dariku sendiri. Mohon kritik dan sarannya yah….

~ Bluebird Winter Part 1~

“Lihat pohon itu?” seorang pemuda tampan menunjuk sebuah pohon yang baru di tanam di pekarangan sebuah rumah bercat putih

“Kenapa dengan pohon itu?” tanya seorang gadis kecil di gendongannya

“Pohon itu sebentar lagi akan tumbuh besar, kemudian..”

“Jika pohon besar itu membesar, berarti badanku juga akan bertambah besar dan kita bisa menikah, bukan begitu?” gadis kecil itu tersenyum menunjukkan gigi kelincinya

“hahahahaha… jika pohon itu membesar, burung-burung akan hinggap di rantingnya, dan kau Gadis kecilku yang manis akan tumbuh menjadi wanita paling cantik sedunia”

“Dan kau berjanji akan menikahiku bukan?” kembali gadis kecil itu memotong pembicaraan si pemuda.

“Selama kau menjadi gadisku yang paling manis”

“Janji… Derek!” gadis kecil itu menyodorkan jari kelingking kecilnya

“Janji!” dan pemuda bernama Derek itu pun menautkan jari kelingking nya ke kelingking si gadis kecil.

* * * * * * *

“Gadis Kecilnya?! brengsek.. Dia pikir berapa usiaku saat ini, delapan belas tahun! dan aku sudah memasuki semester ke empat ku di bangku kuliah! Dia pikir aku anak berusia lima tahun!” Melissa mengusapkan perona merah di pipinya, sebenarnya Dia tidak terlalu memperdulikan detail dandanannya, Dia bahkan jarang sekali berdandan.

“Kau pikir aku anak kecil hah?!” masih dengan nada kemarahan Melissa mengoleskan lipgloss warna cerry di bibirnya yang tebal. Dia mewarisi keanggunan dan setruktur tubuh Sarah Metthew, Ibunya. Dengan mata hitam pekat dan rambut panjang sekelam malam warisan dari ayahnya Melissa tidak pernah harus terlalu berusaha untuk berdandan menjadi cantik. Menganggap dirinya sempurna, sekali lagi Missy berputar di depan cermin besar di kamar tidurnya.

“waktunya berkencan!” bisiknya. Ini adalah kencan pertamanya selama.. oh well, delapan belas tahun tentu saja. Ayahnya terkadang terlalu over protected dan yah.. ada Derek yang selalu menjadi anjing mata-mata untuk orang tuanya. Derek Taliferro laki-laki yang sudah di anggap sebagai keluarga oleh orang tuanya, laki-laki yang selalu menjadi tamu tetap setiap Natal, Thanksgiving dan acara keluarga lainnya, laki-laki yang menurut Ibunya menjadi orang yang paling berjasa semasa kelahiran Missy selain Paman Max, Orang yang paling menyebalkan sedunia, orang yang selalu memanggil Melissa Kay dengan sebutan “Missy Gadis kecilku”, laki-laki yang paling dia inginkan selama… well delapan belas tahun!

Persetan dengan itu semua, sekarang saat nya Dia mereguk semua kebebasan yang diperoleh. Seminggu yang lalu di ulang tahunnya yang ke delapan belas, Missy membuat permintaan yang mencengangkan semua orang yang hadir, termasuk Derek tentu saja. Dia meminta diijinkan untuk memulai hidup mandiri, mencari apartemen yang lokasi nya dekat dengan kampus dan mengurus semua pengeluaran nya sendiri. Dia terlahir dengan Ayah yang selalu memberikan apapun yang Dia mau, dan well dia kaya raya, tanpa bekerjapun Dia tidak akan pernah kesusahan. Tapi Dia sudah berusia delapan belas tahun, dan selama delapan belas tahun pula dia harus selalu meminta ijin jika melakukan sesuatu. Ayahnya adalah orang yang paling cepat terserang penyakit cemas jika Dia dan adiknya Jed tidak berada di rumah tepat waktu. Ibunya selalu berusaha menjadi penengah di tengah Dia dan Ayahnya. “tentu saja karena Ayahmu menyayangimu Missy!” itu kata-kata Ibunya.

Setelah memohon pada Ayahnya, dan berusaha mati-matian membujuk Ibunya, akhirnya Rome dan Sarah Mattew mengijinkan anak tertuanya untuk menjalani kehidupan khas anak muda Amerika. “Dengan catatan, tidak tinggal bersama anak laki-laki, menelpon kerumah minimal sekali sehari, tidak membukakan pintu untuk orang asing, dan tentunya tinggal di apartemen keluarga!” jadilah Dia berakhir di sini. Di apartemen mewah di jantung kota New York, dengan Derek sebagai tetangga dan anjing penjaga. “Terima semua atau tidak sama sekali Missy!” Missy menirukan kata-kata Ayahnya. “Missy” ya ampun.. berapa kali Dia harus mengatakan bahwa Dia membenci nama itu “Missy” terlihat terlalu kekanak-kanakan, gadis manja yang bergigi kelinci. Dan mungkin memang itu yang terlihat di mata Ayah Ibunya, Jed dan tentunya Derek Taliferro! Lihat dia sekarang, cantik, anggun dan modern Urgh….. Dia harus bergegas jika tidak ingin terlambat pada acara kencan pertamanya.

* * * * *

“Aku titipkan Dia padamu Derek, kami sangat berharap kau dapat menjaganya, pada dasarnya Dia anak yang manis, hanya sedikit keras kepala” Derek Taliferro teringat kembali perkataan Sarah Matthew beberapa menit yang lalu dari telpon gengamnya. “Sedikit keras kepala!” Derek bergumam, mungkin seharusnya Missy mempunya warna rambut merah terang bukannya hitam pekat untuk menandakan temper nya terlalu cepat naik, tidak perlu dipertanyakan lagi dari mana Missy mendapat sifat “sedikit keras kepalanya” tentu saja dari ayahnya Rome Matthew direktur Spencer – Nyle. Puji Tuhan Dia dulu tidak mau bekerja di bawah kepemimpinan Rome, bukan karena laki-laki itu terlalu otoriter, hanya saja Dia tidak mau mendapat pekerjaan karena belas kasihan orang lain. Meski lusinan kali Rome mengatakan bahwa dia memang layak mendapat tempat sebagai kepala cabang New York City karena ketangguhannya tapi dunia kedokteran telah lama menggerogoti jantung dan hatinya, jadilah Dia sekarang menjadi Dokter bedah Jantung paling terkenal di Amerika.

Usianya sudah menginjak angka tiga puluh empat tahun, dan Dia sama sekali belum tertarik untuk menjalani kehidupan berkeluarga. Mercie, Ibunya berulangkali berusaha menjodohkan Derek dengan putri teman-temannya, Sarah juga selalu berusaha menjodohkan Dia dengan orang-orang yang baik menurut mereka dan Missy… ah, gadis kecil itu selalu saja menggodanya dengan janji masa kecil yang harus ditepati. Selamanya Missy akan menjadi gadis kecil nya, Derek sendiri lupa pada janji itu hingga Missy berulang tahun yang ke tujuh belas dan secara mengejutkan gadis itu mengatakan “Well… Derek, kau bisa menikahiku sekarang, wanita seusiaku sudah di ijinkan menikah di mata hukum” Missy mengatakannya dengan gaya sok dewasa dan seketika itu juga reaksi Derek adalah tertawa terbahak-bahak. Dia sama sekali tidak menyangka Missy-nya, gadis kecilnya akan berkata begitu, dia masih tertawa ketika melihat pancaran kekecewaan di mata Missy dan sebutir air mata jatuh di pipinya

Derek baru akan mengatakan permintaan maaf nya dan menjelaskan pada Missy, ketika gadis itu berlari menaiki tangga dengan air mata di wajahnya. Seketika itu juga Rome langsung menghujamkan tatapan “Apa yang Kau lakukan, pada Gadis kecilku!” ke arah Derek. Setahun berikutnya, Missy mengacuhkan kehadiran Derek di rumahnya, Dia bahkan tidak pernah tersenyum lagi padanya. Missy benar-benar menganggapnya tidak pernah ada dan selalu memusuhinya, menganggap Derek sebagai anjing penjaganya. Sarah meyakinkan Derek bahwa sikap Missy hanya untuk sementara, dan sebentar lagi Dia juga akan kembali bergelayut pada lengan Derek seperti biasanya. Sekarang Derek harus menjaga Missy, Sarah dan Rome menitipkan Missy yang sedang menempuh kuliah di univ jurusan kedokteran anak. Satu hal yang menjadi sifat positif gadis itu adalah kegilaannya kepada anak kecil, wajah Missy akan berbinar tiap kali dia melihat anak kecil dan Dia menjadi pribadi yang sangat hangat dan penuh perhatian. Derek yakin Missy akan menjadi dokter handal di kemudian hari.

Untuk memulai mendapat kepercayaan Missy kembali, Derek berencana akan mengajak gadis kecil itu makan malam sore ini. Dia sudah di depan pintu apartemen Missy ketika tiba-tiba kenop pintu berputar dan pintu terbuka. Missy dalam balutan rok mini berwarna hitam, sepatu boot setinggi betis yang juga berwarna hitam dan blazer hitam dengan kaos berwarna merah di dalamnya serta sraft merah yang melilit leher jenjangnya. Well… paduan warna hitam dan merah semakin memperkelam warna mata dan rambutnya. Dia terlihat seperti Rome versi feminim dan Dia cantik sekali!

“Hai Derek!” Missy menyapa Derek dengan acuh tak acuh dan kembali mengunci pintu apartemennya

“Ha… lo Missy, emm.. mau kemana?” oh sial, suaranya terdengar serak, jangan pikirkan hal hal yang tidak-tidak Derek Taliferro!

“Aku ada kencan!” Missy menjawab sambil mmemasukkan kunci ke dalam tas kecilnya

“Berkencan?! Kau belum ada seminggu di sini”

“Lantas kenapa?” kali ini Missy menjawab dengan mengarahkan mata gelapnya ke arah Derek. Meski mewarisi tulang Ibunya, Missy selalu bersyukur dia juga mewarisi tinggi Ayahnya. Meski tidak setinggi Derek setidaknya Missy tidak pernah merasa terintimidasi oleh tinggi badan laki-laki itu.

“Ada apa kau di depan pintuku? Menguping? Menjadi mata-mata? Karena jelas kau sendiri tidak suka bertemu denganku!” Missy melanjutkan cepat

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu, sayang” Derek mencoba menjawab berondongan asumsi negative tentang dirinya dan menambahkan kata “sayang” seperti ketika Missy masih kanak-kanak.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Dan aku benar-benar harus pergi sekarang. Selamat tinggal Derek!” Missy berjalan ke arah lift dan memencet tombol turun. Apartemennya ada di lantai 5 dan demikian juga apartemen Derek.

“Aku baru akan mengajakmu makan malam” Derek bergumam

“Apa?”

“Dengan siapa kau berkencan?!” Derek mengacuhkan pertanyaan gadis itu barusan

“Aku rasa itu bukan urusanmu!… “

“Missy, jangan keras kepala! Kau tidak terlalu tau daerah sini, baimana kalau dia laki-laki tidak benar dan suka menculik gadis-gadis muda?!, dan lihat pakaianmu, suhu di luar mencapai -6 derajat!” Derek memotong perkataan Missy cepat

“Oh ayolah Derek, jangan mulai terdengar seperti Ayahku!.. “ Derek masih menatapnya dan menunggu jawaban dengan siapa Missy akan berkencan

“Argh!! Aku pergi dengan Ben lewis, Kau kenal Dia! Oke? Masalah selesai aku sungguh-sungguh harus pergi!” Missy mengangkat mantel panjang di pergelangan tangan kirinya untuk menjawab pertanyaan Derek yang lain.

“Ben Lewis? Mahasiswa di kampusmu? Anak yang sedang magang di RS?!” Derek menambahkan

“Yup, itu dia… selamat tinggal Derek!” Missy melangkah memasuki lift ketika Derek berteriak

“Aktifkan HPmu, telp aku jika ada apa-apa! Jangan lupa pakai mantelmu!”

“Benar-benar Derek si anjing penjaga” Missy bergumam dan bersyukurlah karena pintu lift tertutup sehingga Derek tidak bisa mendengar gumamannya.

* * * * * *

Derek sedang berusaha memasukkan kunci di lubang kunci apartemennya ketika tiba-tiba ada terdengar suara seorang pemuda menyebutkan namanya

“Dr. Tallifaro?!”

Derek membalik badan dan melihat seorang pemuda tampan dengan kulit kecoklatan terbakar matahari, berambut pirang dengan deretan gigi super putih tersenyum lebar ke arahnya

“Ben, kau melupakan sarung tanganmu…. “ suara seorang wanita mengikutinya di belakang pemuda tadi

“Kenapa kau tidak bilang kalau tetanggamu adalah Dr. Tallifaro, Lissa”.

“Oh, hai Derek!” Missy menyapa Derek yang masih setengan melamun melupakan kunci yang di pegangnya

Missy terlihat cantik, rambut hitamnya di ekor kuda dan wajahnya, wow.. Missy sepertinya menambahkan banyak maskara di matanya yang makin mempertegas warna matanya. Satu kata “cantik”, Derek tidak pernah melihat Missy berdandan selama ini, kecuali beberapa malam yang lalu ketika gadis itu untuk berkencan dan sekarang setelah tiga hari tiga malam dengan sedikit tidur setelah berjaga di RS, Dia seolah-olah melihat wajah baru, seolah-olah selalu menutup mata dan tidak pernah Missy sebelum ini.

“Dan kau mengenalnya?” suara pemuda yang sepertinya Ben Lewis itu membawa Derek kembali ke alam nyata.

“Derek ini Ben Lewis, dan Ben ini Dr. Derek Tallifaro tetanggaku” Missy memperkenalkan mereka berdua

“Hai, aku Ben Lewis. Aku melihat seminarmu tentang pembedahan pembuluh aorta pada Jantung beberapa hari lalu. dan wow… itu keren sekali!” Ben terlihat sangat antusias

Derek hanya tersenyum masam menanggapi ucapan antusias pemuda itu, dan menatap tanpa berkedip ke arah Missy yang sedang bergelayut manja pada salah satu lengan Ben

“Ben, bukannya kau bilang ada kelas siang ini?” Missy mengingatkan Ben dengan gaya manja di buat-buat. Derek yakin sekali kalau Missy sedang berusaha menarik perhatiannya dengan cara bermanja-manja pada Ben. Jadi Derek hanya berdiam diri, menatap marah ke arah Missy dan tanpa dia sadari kantuk yang dirasakan sejak tadi malam menguap begitu saja

Derek tidak menyadari kepergian Ben, yg dia dengar samar-samar hanya Ben merasa senang bertemu dengannya dan mungkin jika Derek punya waktu luang mereka bisa berdiskusi tentang masalah pembedahan pembuluh darah di jantung. Missy berdiri di depan Derek dengan tangan di pinggang.

“Ramah sekali Kau pada tamuku!”

“Jadi itu pemuda yang kau kencani? Sepertinya seleramu perlu di tata ulang Missy, dah hei.. Lissa???!”

“Sepertinya aku harus memberi tahu ayahmu tentang ini” Derek menambahkan seraya membuka pintu apartemennya

“Kau mau bilang apa pada Ayah? Aku sudah berumur delapan belas tahun dan aku berhak menentukan kehidupanku sendiri” Missy berlari mengejar Derek memasuki apartemen laki-laki itu

“Ayahmu harus tau kau bergaul dengan siapa saja, kau tau ayahmu seperti apa kan?”

Derek melihat wajah gadis itu memucat dan kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya, Derek yakin sekali kalau Missy dengan senang hati akan mengayunkan tinjunya ke muka Derek. Tapi Derek benar-benar tidak bisa mempercayai Ben Lewis dan “Lissa” sejak kapan gadis itu berubah nama?

“Jangan pernah campuri hidupku lagi!, kau tidak berhak! Kau dengar itu, kau tidak berhak berbuat sesukamu lagi padaku! Kau sendiri yang menolak menikahiku, dan sekarang kau mau merusak kecan pertamaku dengan laki-laki lain?! Langkahi dulu mayatku Derek Taliferro!!!” Missy berlari keluar apartemen Derek bagai orang yang menghindari kebakaran

“Missy, aku tidak… “ Derek tidak perlu melanjutkan kata-katanya karena bantingan pintu menandakan bahwa sekeras apapun Derek berusaha menjelaskan, Missy takkan mendengarnya.

Derek tidak bermaksud terlalu mencampuri kehidupan gadis itu, dan perkataan Missy tadi ada benarnya juga. Dia sama sekali tidak berhak untuk, apa tadi katannya “berbuat sesukanya” tapi Derek benar-benar tidak menyukai gagasan Missy berkencan dengan orang macam Ben Lewis, tipe laki-laki seperti bintang film itu pasti akan mematahkan hati Missy dalam waktu dekat. Dia hanya tidak ingin Missy mengalami patah hati di usinya yg baru delapan belas. Derek berusaha mati-matian mengingkari fakta bahwa dia tidak suka Missy bergelung manja pada tangan laki-laki lain selain dirinya, selama ini Missy hanya bergelung padanya, Rome, Jed dan Mr. Conroy.

* * * * * *

Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Missy bertekad untuk menjauhi Derek. Dia berkeyakinan bahwa Dia sanggup menghadapi ini semua. Itu sedikit aneh tentunya, selama delapan belas tahun ini Missy selalu berusaha berada dekat dengan Derek. Setelah sekian lama akhirnya Dia bisa berdekatan tanpa kehadiran orang tuanya maupun Jed tapi situasi ini tidak seperti yang Dia bayangkan selama ini. Dia tidak marah pada Derek karena kejadian di apartemen pemuda itu, Dia masih merasa marah pada Derek sejak penolakan pemuda itu dan kebodohannya sendiri menganggap janji masa kecil masih berlaku. BODOH!!!.

Ben Lewis, siapa yg tidak tergila-gila pada pemuda itu. Semua gadis di kampus berusaha mati-matian mendapatkan perhatian dari pemuda itu. Dan Missy tanpa bersusah payah sedikit pun langsung bisa menarik perhatian Ben. Bagi orang kebanyakan, mungkin akan berpendapat bahwa Ben adalah kekasih idaman, dengan tampang rupawan, senyum seperti anak kecil yang polos dan nilai yang selalu di atas rata-rata, tapi masalahnya, bagi Missy tidak ada orang lain yang lebih tampan dari Derek Telifarro. Dan itu adalah kesalahan yang mungkin akan Dia sesali seumur hidup.

“Kau masih muda sayang, sebentar lagi kau juga akan menganggap sayang mu kepada Derek sama seperti selama rasa sayangmu pada paman Max” Ibunya sering mengatakan itu pada Missy. Yang jelas selama delapan belas tahun rasa sayangnya pada Derek jelas berbeda dengan rasa sayangnya pada paman Max.

“Lissa, lihatlah siapa yang ada di ujung koridor?” Beth salah satu sahabat Missy menyadarkan dia dari lamunan

Seketika itu juga Missy mengarahkan pandangannya ke ujung koridor yang di tunjuk Beth. Derek sedang berdiri dengan stelan abu-abunya di samping seorang wanita cantik berambut pirang keemasan mengenakan stelan blazer berwarna krem yang pas badan dan mempertegas bentuk ramping pinggul dan menonjolkan kejenjangan kakinya. Tanpa sadar Missy menarik nafas panjang melihat pemandangan itu.

“Mereka serasi sekali kan?” Beth melanjutkan

“Ehmm.. siapa wanita itu?”

“Jangan katakan kau tidak mengenal Kathleen Fields” Beth menatap Missy dengan ekspresi tidak percaya

“Kathleen Fields, dia dokter kandungan paling handal di sini, jangan katakan kau tidak tau apa-apa mengenai dia Liss!”

“Oh, jadi itu dokter kandungan yang juga akan menjadi dosen kita yang baru? Tapi apa hubungannya dengan ‘keserasian’ Dia dengan Der.. hhmm.. Dokter Taliferro?” Missy menatap Elisabeth bingung sambil menekankan kata “keserasian”

“Menurut gossip yang beredar, Dr. Fields dan Dr. Taliferro mempunyai hubungan khusus, mereka teman dekat sewaktu kuliah dulu dan apa kau tidak lihat bahasa tubuh mereka? Jelas mereka pernah tidur bersama dan aku yakin sekarang juga masih” Beth mengarahkan pandangan ke ujung koridor sambil berdecak kagum.

“Dasar tukan gossip!!!” Missy beranjak pergi meninggalkan Beth yang masih mengawasi pasangan di ujung koridor itu

“Ada lagi Liss… eh.. kau tidak mau mendengar lagi gossip yang beredar di antara mereka?” Beth menatap kepergian Missy dengan tampang bingung

Missy hanya melambaikan tangan pada Beth seraya beranjak pergi. Tidak.. tidak.. Dia tidak mau dengar, Dia tidak mau tau!. Tapi Kathleen Fields memang terlihat terlalu mempesona, terlihat matang, cantik dan serasi sekali dengan Derek. Setitik air mata membasahi pipi gadis itu.

* * * * * *

“Oh, Sial!!!” Missy bergumam sambil menatap tumpukan buku disamping meja belajarnya. Beth meminjam buku Ginekologi dasarnya tadi siang dan Missy membutuhkan buku itu sekarang. Derek, dia pasti punya buku itu. Tidak ada salahnya Dia mencoba mengetuk pintu apartemen laki-laki itu.

Selang sepuluh menit kemudian pintu apartemen Derek terbuka, dan Kathleen Fields berdiri di sana membukakan pintu untuk Missy.

“Hmm.. apa Derek ada? Saya tidak bermaksud untuk mengganggu..”

“Masuklah Missy, aku sedang membuat makan malam. Apa kau sudah makan?” terdengar suara Derek dari arah dapur

“Masuklah” Kathleen Fields mempersilakan Missy masuk kemudian menutup pintu di belakangnya.

“Menu malam ini adalah steak tuna, makanan kesukaanmu kan? Mau bergabung dengan kami?” Derek sedang sibuk mempersiapkan salad di atas mangkok, sementara Missy masih berdiri di koridor dengan perasaan marah.

“Hei, kau Melissa Kay bukan? Dan kau berada di kelasku tadi siang” Kathleen Fields menyadarkan Missy di mana dia berada sekarang

Missy hanya menjawab dengan anggukan kecil

“Missy adalah calon dokter anak masa depan kita Kate dan Dia adalah tetangga apartemenku” Derek tersenyum ke arah Missy

“Aku bisa menjawab sendiri Derek!” Missy berkata ketus

Kate hanya tersenyum melihat emosi Missy yang meluap-luap. Dan kenapa Aku harus marah? Missy mencoba menjernihkan pikirannya

“Maaf, Aku tidak… “ Missy mendesah

“Aku hanya bermaksud untuk meminjam buku Ginekolologi dasar. Beth meminjam bukuku tadi siang dan aku harus mengerjakan tugasku saat ini” Missy mencoba menenangkan debaran jantungnya yang meningkat dua kali lebih cepat.

“Kau ambil saja di rak, di dekat meja kerjaku” Derek memberikan tatapan “jaga sopan santunmu” pada Missy

Lima menit kemudian Missy masih harus berjuang mengendalikan kemarahannya “tetangga apartemenku” jadi hanya itu saja arti seorang Melissa Kay bagi Derek!!

“Terimakasih, aku akan mengembalikan secepatnya” Missy berkata sambil beranjak kearah koridor

“Kau tidak akan ikut makan malam bersama kami?” Kate memotong cepat

“Tidak terimakasih Dr. Fields.. “ Missy menatap Kate

“Aku sangat berterimakasih atas undangannya, tapi aku harus mengerjakan ini secepat mungkin!” Missy menambahkan setelah sekian detik tidak ada yg berkata-kata di antara mereka berdua

“Sampai jumpa, senang bertemu dengan Anda malam ini” Missy menambahkan seraya mengarahkan tatapan mengejek ke arah Derek

Sesampainya di apartemennya sendiri, Missy melempar buku Ginekologi dasar itu ke atas meja dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Bodohnya dia, kenapa dia harus terkejut dan merasa marah mendapati Kathleen Fields ada di apartemen Derek? Dan kenapa dia jadi sesedih ini? “Bodoh.. bodoh.. bodoh… aku memang bodoh” Missy mengerang sambil mengusap air mata di pipinya.

* * * * *

“Missy….hhhmmm… jadi Dia gadis kecil mu Derek?” Kate menatap Derek yang sejak kepergian Missy hanya berdiam diri menatap steaknya

Derek hanya mendongak dan tersenyum kemudian melanjutkan kembali makannya

“Dia tidak terlihat seperti gadis kecil, Dia sangat cantik”

Derek meletakkan pisau steaknya kemudian berkata “Selamanya Dia gadis kecilku Kate!”

“Dia berkencan dengan Ben Lewis kan? Pemuda yang tampan dan pandai, aku saja harus menenangkan hatiku tiap kali memasuki kelasnya” Kate melanjutkan tanpa sedikitpun merasa terganggu dengan kemurkaan di wajah Derek.

“Aku tidak mau membahasnya saat ini!” Derek berkata ketus

“Maaf Kate, bukan maksudku membentakmu hanya saja Aku dan Missy akhir-akhir ini merasa tidak pernah sejalan. Padahal dulu dia selalu menuruti semua nasehatku”

“Kau mencintainya kan?”

“Ha??!” Derek tidak pernah siap dihadapkan pada pertanyaan seperti itu

“Kau masih tetap menjadi orang yg suka berterus terang ya Kate?” Derek menatap wanita cantik di seberangnya

“Tentu saja Aku mencintai Missy, Dia sudah menjadi tanggung jawabku sejak kecil, kau sendiri tau ceritanya kan?”

“Kau mencintainya seperti laki-laki terhadap perempuan. Jangan coba-coba menyangkalnya lagi Derek, Aku sudah merasakannya sejak kita masih bersama dulu. Aku selalu merasa iri pada perhatianmu pada Missy, meski aku hanya mendengarnya dari ceritamua. Hhmmm… bahkan caranmu bercerita pun aku sudah sadar Aku tidak akan mendapat tempat yang kuinginkan di hatimu dan setelah malam ini Aku semakin sadar Missy takkan terkalahkan!”

“Aku tidak tau harus berkata apa Kate, Kau menghakimiku…”

“Aku tidak menghakimimu, mungkin saat ini kau belum tersadar sepenuhnya. Coba Kau tanya hatimu Derek, apa Kau rela Missy bersama laki-laki lain? Apa kau rela semua hal yang akan Missy lalui di masa depan, di laluinya tanpa mu?”

Tanpa sadar Derek mengenggam gelas anggurnya dengan sangat erat, Kate tersenyum memandang buku-buku jari Derek yang memutih

“Aku tidak tau Kate.. Aku.. “

“Cobalah jujur pada diri sendiri, dan kalau apa yang aku lihat tidak salah adalah Missy tidak mengetahui perasaanmu padanya. Benar bukan?”

Derek hanya mengangguk, Dia mempertanyakan ketulusannya selama ini. Jika Kate saja bisa melihat perasaannya pada Missy sedemikian kuat, bagaimana dengan Sarah dan Rome serta Marcie Ibunya?. Itu tidak boleh terjadi kan? Missy adalah orang yang harus Dia jaga bukan dicintai.

* * * * *

Hari sudah beranjak pagi ketika Beth, Missy dan Ben selesai mengerjakan tugas kuliah mereka. Beth langsung tertidur di sofa dengan berbantalkan buku-buku, sementara Ben sudah beranjak ke pintu apartemen Missy. Ben harus segera pulang karena Dia ada jadwal kuliah pagi ini.

Ben adalah pemuda yang gemar becanda beda sekali dengan Derek Taliferro. Sayang nya hal itu tidak bisa meluluhkan hati Missy yang selamanya milik Derek, bahkan kegemaran becanda Ben malah menjadikan pemuda itu tampak seperti anak kecil, seperti Jed di mata Missy. Missy menyayangi Ben, tapi tidak dalam kapasitas laki-laki dan perempuan. Missy sadar sekarang, Dia menyayangi Ben seperti Dia menyayangi Jed, adiknya. Mereka sedang menertawakan lelucon yang dibuat Ben ketika keduanya berpapasan dengan Derek Taliferro yang baru kembali dari jogging paginya.

Missy bahkan tidak menyapa Derek, Dia harus menenangkan jantungnya yang berdebar tak terkendali tiap kali memandang wajah tampan laki-laki itu. Ben hanya menyapa selamat pagi yang di jawab anggukan kecil dari Derek. Laki-laki itu berdiri di koridor sambil menghujamkan tatapan marah ke arah Missy. Missy tau Derek pasti berfikir yang tidak-tidak, dan mengetahui apa yg Derek pikirkan mengenai dirinya membuat Missy melupakan denyut hangat yang mengaliri hatinya barusan. Laki-laki itu takkan pernah percaya padanya, hal itu membuat Missy jengkel sekaligus ingin menangis. “terserah saja apa yg mau Dia pikirkan, bukan urusanku” Missy membatin.

“Ok, sampai sini saja Lissa sayang. Kau juga butuh tidur setelah apa yang kita kerjakan barusan” Ben tersenyum jahil kepada Missy. Kata-katanya sungguh profokativ tapi Missy tidak akan mendebatnya saat ini ketika Derek masih berdiri menguping di depan pintu apartemen nya yang kebetulan berdekatan dengan pintu lift.

“Yup, sayang sekali Kau harus kuliah pagi Ben. Kalau tidak kita bisa membuat sarapan bersama” Missy tau dia sedang membuat Derek cemburu dan berlaku tidak adil pada Ben. Tapi pemuda itu tetap tersenyum manis padanya, kemudian tiba-tiba Ben mengecup bibir Missy ringan. Terlambat memberi tanggapan, pintu lift sudah tertutup dengan membawa Ben serta. Tinggalah Dia di koridor itu berdua dengan Derek yang sedang mengamatinya dengan mata menyipit.

Seandainya tatapan bisa membunuh, bisa dipastikan Missy sudah terkapar saat ini. Derek bukan hanya marah tapi jelas terlihat sangat murka. Seperti malaikat maut yang kehilangan buruannya. Bermaksud menghindari konfrontasi yang jelas tidak bisa Dia menangkan, Missy beranjak dari tempatnya berdiri dengan kepala tegak dan air muka yang dibuat sedatar mungkin menuju pintu apartemennya. Missy selalu percaya pada mukjizat, dan entah kenapa Derek tidak mengatakan sepatah katapun, tidak menasehati Missy tentang pergaulan, tentang alat pencegahan bahkan tentang kesopanan. Derek hanya terdiam di tempat tanpa sepotong kata pun, entah harus bersyukur atau menangis Missy merasa hatinya teramat sakit saat itu. Jelas usahanya membuat Derek cemburu tidak berhasil sama sekali, bahkan laki-laki itu tidak perduli sedikitpun. Missy melewatkan buku-buku jari tangan Derek yg memutih di samping tubuhnya, dan ekspresi kesakitan di wajah laki-laki tampan itu.

* * * * *

To be continued

Gomenne… baru jadi part 1 nya, part 2 nya menyusul ibu2… jgn dibandingin sama karya Linda Howard loo… jauh *hmpfh*

Advertisements

3 Comments

  1. Benodhi said,

    August 27, 2009 at 7:36 am

    Wah, berarti aku ibu2 juga yah baca ini?ha3x

    Ies : engga juga.. bebas kok :p

    Aku gak bisa kasih komentar (tentunya bersifat subyektif) terlalu banyak sih, malah bisa dibilang semuanya ini lebih ke bentuk pertanyaan karena aku kan amatir yg banyak bingungnya.ha3x.Ummm…Aku mulai dengan rangkaian kata2 dulu aja yah…

    “Dengan mata hitam pekat dan rambut panjang sekelam malam warisan dari ayahnya Melissa tidak pernah harus terlalu berusaha untuk berdandan menjadi cantik.”

    “tidak pernah harus terlalu berusaha”—> aku dengernya kok agak rancu yah?Jgn2 penyusunan kalimat BI ku yg salah.he3x.Aku biasanya pakai kata2 “tidak pernah berusaha terlalu banyak…”.Boleh gak sih?
    ies : aku kebanyakan baca genre Harlequin, biasanya bahasanya emang agak alay gitu [lol]

    Dia meminta diijinkan untuk memulai hidup mandiri, mencari apartemen yang lokasi nya dekat dengan kampus dan mengurus semua pengeluaran nya sendiri.——> bukannya cara penulisan “lokasi nya” seharusnya “lokasinya” yah?Atau ada pengecualian?

    Ies : hiks.. aku emang bingung dgn jenis tulisan di gandeng dan di pisah *padahal pelajaran SD* makasih..

    Aku liat banyak menggunakan kata Dia dan Kau itu.Kata dia untuk menggantikan si Melissa bukannya gak boleh pake huruf besar di depan yah?
    ies : iya.. aku salah *sembah sujud ke bend*

    Missy terlihat cantik, rambut hitamnya di ekor kuda dan wajahnya, wow.. Missy sepertinya menambahkan banyak maskara di matanya yang makin mempertegas warna matanya. Satu kata “cantik”, Derek tidak pernah melihat Missy berdandan selama ini, kecuali beberapa malam yang lalu ketika gadis itu untuk berkencan dan sekarang setelah tiga hari tiga malam dengan sedikit tidur setelah berjaga di RS, Dia seolah-olah melihat wajah baru, seolah-olah selalu menutup mata dan tidak pernah Missy sebelum ini.—-> kenapa yg ini gak langsung digabungkan dengan deskripsi kecantikan yg pertama n udah ada di paragraf sebelumnya? Aku mikirnya selama ini kalo untuk mendeskripsikan “kondisi kecantikan” seseorang ntu harus sekaligus tapi untuk mendeskripsikan “ciri2 tubuh dan sifat” bisa dipisah2

    Ies : kalo di HQ atau novel2 romance lainnya, penggambaran fisik seseorang tidak harus dalam satu kali penjelasan *maap… masih amatir jd ketergantungan sama nopel yg biasanya di baca*

    “Jadi itu pemuda yang kau kencani? Sepertinya seleramu perlu di tata ulang Missy, dah hei.. Lissa???!”

    “Sepertinya aku harus memberi tahu ayahmu tentang ini” Derek menambahkan seraya membuka pintu apartemennya ——-> Bukan harusnya ada kalimat penghubung yah antara dua dialog?Maksudnya gak ada spasinya jadi terlihat seperti paragraf baru ntu…

    Ies : aku make format FF bukan nopel bend.. jadi biar antar dialog lebih terlihat aku buat spasi *ajaran om charmed*

    Derek melihat wajah gadis itu memucat dan kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya, Derek yakin sekali kalau Missy dengan senang hati akan mengayunkan tinjunya ke muka Derek. Tapi Derek benar-benar tidak bisa mempercayai Ben Lewis dan “Lissa” sejak kapan gadis itu berubah nama?—->Aku lebih suka kalau seperti ini
    …dan “Lissa”.Hey, sejak kapan nama gadis itu berubah?
    atau
    …dan “Lissa”.Hey, sejak kapan gadis itu berganti nama?
    Jadi kayak agak ada efek kaget dikit geto.he3x.Kata “berubah nama” kayaknya juga agak ganjil di telingaku.Mungkin feelingku aja x yah.he3x
    ies sekali lagi karena faktor kebiassaan [hmpfh]

    “Dasar tukan gossip!!!” Missy beranjak pergi meninggalkan Beth yang masih mengawasi pasangan di ujung koridor itu

    “Ada lagi Liss… eh.. kau tidak mau mendengar lagi gossip yang beredar di antara mereka?” Beth menatap kepergian Missy dengan tampang bingung—-> rasanya tidak terkesan seperti urutan momen yg tepat.Bukannya seharusnya Beth terlebih dahulu bilang “Ada lagi,Liss” baru si Missy nya yg kesal n cabut?

    ies : ooo… bagus juga…. idenya, tadinya aku pikir lissa nya udah beranjak gitu :p

    Kate hanya tersenyum melihat emosi Missy yang meluap-luap. Dan kenapa Aku harus marah? Missy mencoba menjernihkan pikirannya—-> bukannya seharusnya ntu…

    Kate hanya tersenyum melihat emosi Missy yang meluap-luap.
    Dan kenapa Aku harus marah? Missy mencoba menjernihkan pikirannya

    Bukannya kalo ada ucapan dalam hati itu dianggap sebagai dialog yah?Aku juga melihat ke2 kalimat tersebut sudah lain konteks, jadi kayaknya harus dipisah geto.Apa perasaanku aja yah?ha3x

    ies iya betuuulll…….. aku salah *sembah sujud ke bend lagi*

    “Tidak terimakasih Dr. Fields.. “ Missy menatap Kate

    “Aku sangat berterimakasih atas undangannya, tapi aku harus mengerjakan ini secepat mungkin!” Missy menambahkan setelah sekian detik tidak ada yg berkata-kata di antara mereka berdua—–> ini bukannya seharusnya digabung?
    Jadi seperti ini…
    “Tidak terimakasih Dr. Fields,“ Missy menatap Kate,“Aku sangat berterimakasih atas undangannya, tapi aku harus mengerjakan ini secepat mungkin!” Missy menambahkan setelah sekian detik tidak ada yg berkata-kata di antara mereka berdua
    Atau memang ini urusan selera aja?

    ies lagi-lagi karena make format FF, kalo novel emang di gabung meskipun di pisahkan sebuah keterangan “missy menatap kate” kl di FF itu akan membingungkan bend 😀

    Terus kalo soal alur nya sih aku rasa lumayan cepat juga yah (berhubung aku gak tau cerita aslinya kayak gimana jadi aku anggap aja ini karya aslinya.he3x) kalo dari gaya bahasanya juga terlihat seperti gaya bahasa yang mudah dicerna dan sehari – hari, memiliki sedikit idiom (kalo aku sih untuk drama lebih suka pake yang gaya bahasa puitis2 romantis geto, tapi malah keseringan lebay n cengeng gara2 pake gaya bahasa geto.ha3x)
    Point of view – nya juga terlihat seperti orang ke3 yang berbicara seolah2 sebagai pelakunya. Menarik memang, bisa memancing emosi pembaca, mungkin aku bisa belajar untuk menggunakannya di novelku nanti.A lot of thanks 4 u…

    <em>ies huahhahahahah… novel kan ukurannya sangat panjang, sementara ini adalah FF yg notabene segini aja di bilang panjang dan masih part 1. aih aku masih amatir[lol]

    Untuk reaksi emosiku saat membaca semua ini, entah kenapa aku gak dapet feelingnya geto, padahal deskripsinya juga sudah sangat jelas. Entah karena hatiku udah membatu atau emang aku gak punya hati yah (hua3x), tapi emang feelingnya kayaknya datar geto.Mungkin karena pengaruh kebiasaanku yang baru bisa dapetin feeling saat melebay2kan kata2 dalam drama kali yah.ha3x

    Ies : Genrenya romance, jarang cowo bisa mendapat feelnya, coba kl bend sering baca novel2 HQ itu pasti akan terlihat membosankan lo.. aku jg agak bosen sekarang dan pindah genre ke Thriller – suspense, jadi dark nya dapet romancenya jg dapet 😀

    Aku rasa segitu dulu aja pertanyaan2 n komen-ku.Mohon maaf kalo ada kata2 yg menyinggung, soalnya itu udah insting alami jadi sering gak sengaja keluar.ha3x.

    ies : sankyuuu…… mau komen di tempatku 😀 😀 😀

  2. olly said,

    February 11, 2012 at 4:37 am

    jeng…. aku nemu blog mu dan ga bisa berenti baca!!!!
    maafkan keagresifanku ini ya
    Ini memang versi missy di otakku. aku sebel dgn blue bird winter. kenapa juga derek musti nolongin cewek itu? huh!!!!!
    aku suka tulisanmu……luph…luph…luph…
    *heboh penuh semangat*

    ies : aduh.. ga tau deh, akhir-akhir ini ide2 di kepalaku menguap begitu saja kwkwkwkw 😛
    maap.. mbuh kapan bisa lanjut 😛

  3. olly said,

    February 11, 2012 at 4:54 am

    aq ga sampe perhatiin tatacara penulisan, aq cuman suka banget ceritanya
    tapi kok ga dilanjut siyyyy….

    ies : hahahaha.. ga sempet banget mo nulis ya ampun, kebanyakan tontonan n bacaan 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: