Sebuah pembicaraan

Senin, pukul 17.15

Sore hari menjelang senja, di sebuah angkot merah dengan nomor identitas 17 dari arah Ciputra menuju Kebayoran. Terdengar sebuah pembicaraan menarik antara si A dan si B

“Pulang-pulang, setelah ini jadwalnya bersih-bersih, trus mencuci baju habis itu mengerjakan tugas Negara” sepertinya si A sedang dalam nuansa hati yang teramat bahagia, terlihat dari senyum yang tersungging di bibirnya.

Kemudian terlihat si A membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah novel, Death Series buku ke-8 dan kemudian terlihat asik dengan dunia detektif dan pembunuhan yang sedang dihadapi oleh Letnan Eve Dallas.

Tiba-tiba si A menutup buku dan bergumam “sehabis bersih-bersih aku mau lanjut baca ini dulu” sambil menunjuk novel tersebut

“Lalu kapan kau akan mencuci bajumu dan mengerjakan tugas negaramu?” terdengar suara si B menimpali si A

“Aku pasti mencuci, tenang saja… lagi pula baju kerjaku juga sudah mau habis” si A masih tersenyum manis ketika menjawab celetukan si B

“iya, pasti mencuci… TOMORROW MORNING!!! Dasar lagu lama kaset baru!!” si B menjawab dengan suara penuh sindiran

“Yup, tomorrow morning pasti aku cuci dan tugas Negara bisa aku kerjakan besok malamnya, come on.. masih ada empat malam, pasti selesai” suara si A terdengar sedikit meninggi

“Ah! Aku tidak akan mempercayaimu untuk semuanya!!! Kau akan keasikan membaca hingga tomorrow morningnya, kemudian ketika mengerjakan tugas Negara kau akan asik online, atau membuat tulisan-tulisan tidak jelas lainnya atau kau bisa mengambil sebuah novel yang masih terbungkus plastik dalam rak, membuka segelnya dan kemudian kembali asik dalam dunia si penulis!!” si B makin sengit mencecar si A

“Aouch… okeh-okeh kemarin-kemarin mungkin aku terlihat seperti itu, tapi kali ini tidak, aku sudah berjanji kepada diri sendiri, aku takkan pernah mengingkari janjiku, kau tau itu kan?!” si A sudah mulai terpancing dengan berondongan pernyataan si B

“Hahahahaha…. Are you kidding me?! Janji ke diri sendiri? Sudah berapa banyak janji ke diri sendiri yang kau langgar? Berapa banyak peryataan yang sudah kau buat dan kau langgar sendiri?” si B terlihat menyunggingkan senyum ganas nan mematikan

“Orgh.. I’m not…. Aish, aku sudah berubah! Aku manusia baru sekarang, tidakkah kau lihat perubahan yang ada dalam diriku? Kau bilang kau lah yang paling mengerti dan memahamiku! Aku kecewa padamu!!!” suara A benar-benar meninggi saat itu

“Aku hanya membicarakan fakta, aku hanya mengatakan apa yang sejujurnya. Kau selalu penuh energi, memiliki perencanaan-perencanaan yang terlihat sangat matang. Tapi apa? Begitu perhatianmu teralih, kau akan langsung berubah pikiran dan tidak bisa konsisten!! Memuakkan!!!” kali ini si B mencibirkan bibirnya untuk mengejek si A yang mukanya kian memerah bahkan mendekati ungu

“Aku tidak seperti itu!!!” wajah si A terlihat sangat merah bahkan mendekati ungu

“Baiklah, mari kita buktikan!” bisik si B di telinga si A

Selasa, Pukul 20.47

“Apa ku bilang, kau belum mengerjakan tugasmu sedikitpun, kau malah keasikan ber-twit ria dan kenapa kau malah membuat tulisan macam ini?” sayup-sayup terdengar desisan kasar si B di telinga si A ketika tulisan ini diketik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: