Balada Seorang Rani

Panas… kukipaskan potongan kardus bekas, menciptakan angin buatan seraya menguap mengantuk. Ku coba kembali melihat deretan angka bilangan matematika dan fisika di buku pelajaran milik Eli sahabatku, menahan rasa kantuk yang tak kunjung hilang. “mungkin aku harus cuci muka” batinku saat itu, “apa lebih baik aku keluar mencari udara segar dan melihat bintang?”. Ku biarkan pintu sedikit terbuka, hembusan angin malam laksana tiupan angin surga menyergapku. Sepi.. hanya ada bunyi jangkrik menemaniku malam itu. Bapak belum pulang, padahal sekarang sudah lewat pukul 12 malam dan masih belum terdengar sedikitpun bunyi gerobak sekotengnya. Yah.. aku Fahrani, 15 tahun dan saat ini aku tinggal dengan Bapakku tersayang.

Kumelangkah ke beranda, menjulurkan leherku ke jalan setapak di samping rumah, jalan yang biasanya di lewati Bapakku setiap hari. Belum ada tanda-tanda sedikitpun keberadaan Bapak, di umurnya yang sudah terbilang tidak muda lagi seharusnya sekarang Bapak tinggal di rumah dan menikmati masa tuanya, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Bapakku. Beliau selalu mengatakan semua ini di lakukan untukku, Rani anak semata wayang nya. Beliau ingin aku kelak menjadi orang yang sukses, tidak seperti Beliau yang lulus SD pun tidak. Tahun depan aku memasuki bangku SMA, aku sudah mengatakan untuk berhenti sekolah saja dan membantu Bapak, tapi lagi-lagi beliau hanya menggeleng dan tersenyum sendu padaku. Bapakku tidak suka berkata-kata, bukan berarti tidak bisa bicara hanya saja beliau lebih suka diam dan bekerja.

Bapakku pekerja yang ulet, apa saja akan beliau lakukan asalkan halal. Dari jadi buruh pelabuhan sampai penjual sekoteng keliling. Aku sendiri hanya bisa bekerja sepulang sekolah, membantu mencuci piring di warteg dekat tempat tinggalku. Malam hari Bapak selalu berpesan waktuku hanya untuk belajar dan istirahat. Di sinilah aku sendirian setiap malam, andai saja ada Ibu, yah… aku tidak tau dimana ibuku. Bapak hanya mengatakan Ibuku sudah meninggal karena sakit. Dulu aku hanya beranggapan Ibuku sedang pergi ke pasar dan akan kembali ketika sore hari seperti biasanya, tetapi setelah ku tunggu sekian lama dia tak pernah kembali ke rumah. Setelah itu aku tidak pernah berharap dia akan kembali.

“Seperti apa rasanya punya Ibu?” sebuah kalimat yang tidak pernah berani aku sampaikan kepada siapapun. Pada sahabatku sekalipun, apalagi pada Bapak. Aku tidak pernah punya nyali untuk bertanya. Apa keadaan akan jauh berbeda dari sekarang? Ataukah….. apa? Aku tidak tau. Bahkan wajah Ibu seperti apapun aku sudah lupa, apalagi suaranya, wanginya? Tidak ada memori sedikitpun yang berbekas di benakku. Terkadang aku sampai berfikir aku bukanlah anak yang baik, aku benar-benar anak yang tidak berbakti karena telah melupakan orang yang melahirkanku. Bukankah surga ada di telapak kaki Ibu? Tapi Ibuku sudah tidak ada, jadi di manakah letak surgaku? Aku tidak tau jawabnya, mungkin nanti setelah aku menyelesaikan pendidikanku dan menjadi orang pintar dan sukses baru kutau jawabnya.

Pernah suatu hari aku bertanya pada Bapak “Pak, seperti apa wajah Ibu?” dan beliau hanya memberiku sebuah cermin seraya berkata “lihatlah cermin setiap kali kau ingin melihat wajah Ibumu” dan setelah itu Bapak pergi meninggalkan cermin di sampingku. Waktu itu aku tidak bisa memahami ekspresi wajah Bapakku, tapi di kemudian hari aku tau Bapak teramat sangat menyayangi Ibu, ada rasa sakit di sana setiap kali aku menanyakan Ibu. Mungkin sebagian hati Bapak ikut pergi bersama Ibu, bahkan mungkin sudah tidak ada semangat untuk memandang wajah hari yang kian berganti. Alasan Bapak hidup saat ini hanyalah aku.

Terkadang aku merasa kehadiranku hanyalah sebuah beban yang menahan langkah gerak Bapak, meskipun Bapak tidak pernah mengungkapkan ataupun menyinggung masalah ini, tapi setiap kali melihat kerutan di wajah Bapakku yang kian hari kian banyak perasaan bersalah dan merasa tidak pantas menggerogoti jiwaku. Aku bukan anak yang patut di banggakan, aku tidak cantik, tidak feminin, tidak pandai, IQ ku juga rata-rata pada umumnya, aku merasa aku belum berguna apapun untuk beliau, bukan anak yang layak untuk di perjuangkan samasekali, meski Bapak adalah segala-galanya bagiku. Jika di pikir lebih jauh, selepas kepergian Ibu bisa saja Bapak menitipkan aku di rumah mbahku di Jawa sana. Tapi di sinilah aku sekarang, Bapakku menyayangiku dan membanggakanku.

“ting.. ting.. ting…” buyi gerobak sekoteng Bapak membawaku ke alam nyata. Kulihat Bapak tersenyum padaku dan berkata “kok di luar ndo? Kenapa belum tidur?”.

“Panas Pak, aku belum ngantuk” jawabku

“Kipasnya rusak lagi ya? Besok pagi Bapak betulkan”
Aku hanya mengangguk menanggapi kata-kata bapakku
“Sudah tidur sana, besok kamu telat ke sekolahnya”
Aku beranjak ke kamar dan menengok ke arah Bapakku “Rani sayang Bapak” dan Bapakku hanya tersenyum simpul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: