September 12 th

Regardless who are facing the leave?

We could not become very honest

I am also like this

Heart is like shredding

“Aku akan menikah” kataku sore itu. Hening, sayup-sayup terdengar alunan musik mengalun dengan ringan. “Baguslah, memang sudah saat nya bagi wanita seusiamu untuk menikah, berapa umurmu sekarang? Hhhmmm… 24th kan? Yah memang sudah saatnya” ucapmu dengan gayamu yang biasanya disertai senyum masa bodohmu tentu saja.

Aku terdiam, memang apa lagi? Runtukku dalam hati. Aku tau kalimat itu yang akan keluar dari bibirmu, aku sudah menyiapkan ekspresi datar dan senyum manis untuk menanggapinya. Ternyata, tetap saja senyum getir yang tersungging di bibirku. Kuhela nafas panjang dan berusaha menatap matanya, yah.. matanya! Mata yang selalu menghantui mimpi-mimpiku beberapa tahun belakangan ini.

“Baguslah, nanti aku kirimkan undangan kepadamu” jawabku enteng.

Kau terdiam menatapku, jari-jarinya menyentuh tanganku “berbahagialah!” katamu, seraya berdiri dan meninggalkan ku di bangku itu sendiri.

Let’s broke up….. I did it according to your words

I disclosed my words for my leave in a graceful manner

Go find a better guy than me….. . I said like this in the surface

“Jadi, kita masih bisa berteman saat ini kan? without best tentu saja” aku tersenyum padamu kala itu.  “kau tau aku seperti apa, kau pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku” jawabmu. Aku hanya menghela nafas panjang dan pergi meninggalkanmu. Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakanmu secepatnya. Kau bukan segalaku, dan aku bisa hidup tanpamu. Yah.. aku yang naïf, kucoba menggantikanmu dengan seribu laki-laki tanpa nama dan wajah.

The days we pass through together

At that time, my memory of that bed still there

If I let the door open, maybe there will be a day you come to look for me

Because you are my everything in my life

“Aku tak perduli, aku bisa berkompromi, aku bisa menerimamu tanpa komitmen apapun” apa akan ada akhir yang berbeda untuk kisah kita jika aku mengatakan kalimat itu padamu? Terkadang sisi lain ku bertanya-tanya. Aku tak berani berandai, ketika kau melihatku kembali, ketika kau menyadari getaran keberadaanku di sisimu atau ketika aku tidak membiarkan kau pergi dari sisiku, tapi.. bukankah aku yg meninggalkanmu?

In my memory, September 12 that day

You said some words that I could never forget

If we trust each other then let’s start and try

I could never forget that moment

“let’s try together” hanya Itu kata yang ingin kudengar darimu kala itu. Tapi, kau hanya terdiam dan menatap kepergianku ketika meninggalkanmu.  “aku juga merasa sakit, asal kau tau” pesan pendek yang kau kirimkan kepadaku setelahnya seolah-olah menaburkan garam di atas lukaku yang tersayat. Sakit? Tidak… aku tidak merasakan apapun, aku bahkan sudah tidak bisa membedakan berbagai rasa yang berkecamuk dalam benakku.

I am sincere

You are my only one at that time

In the World only you to me

I’m not saying wanted you to come back

You must live happily !!

“Berbahagialah!!” kata-katamu itu masih terngiang di telingaku. Aku akan berbahagia.. yah… akan aku kabulkan permintaanmu!.

*something wrong with my head…. Terinspirasi dari lagunya Rain – September 12th*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: