Best Man By Matt Dunn

Best Man, bercerita tentang persahabatan tiga laki-laki bernama Adam, Nick dan Mark.  Best Man di ambil dr sudut pandang Adam yg takut berkomintmen, gemar gonta-ganti pacar .  Dia suka membuat berbagai  macam alasan yg aneh2 buat mutusin pacar-pacarnya *setelah di tiduri tentu saja* dari mata kaki yg kegemukan sampai gigi taring yg kepanjangan. Tentu saja hal ini tidak pernah di ungkapkan ke pacar-pacarnya, alasan itu hanya di buat untuk meyakinkan diri sendiri meninggalkan perempuan-perempuan itu.

Adam mempuyai  2 sahabat baik, yaitu Nick sahabat dari kecil sekaligus tetangganya di kampung halaman  dan Mark sahabat yang di ketemukan mereka berdua ketika berkuliah. Seperti umumnya laki-laki di manapun, mereka ber 3 gemar nongkrong atau sekedar ngumpul bareng di Rose Bar. Pemilik Rose Bar ini adalah pasangan Gay yang sering memberikan komentar tentang ketiganya (komentar mereka lucu-lucu banget [lol])

Mark  sendiri seorang bapak keluarga (sudah menikah maksudnya). Mark menikahi Julia yang notabene adalah salah satu mantan pacar Adam, dari perkawinan mereka di karunai seorang anak perempuan yg cerewet bernama India (Namanya di ambil dari nama tempat mereka berbulan madu, yang diyakini Mark dan Julia sebagai tempat terjadinya pembuahan [lol]) dan Julia juga tengah hamil anak ke dua. Oh ya, India juga anak baptisnya  Adam (bisa di bayangkan ribetnya??) .  Mark seorang akuntan yang selalu berfikir mempunyai jiwa pengusaha, otaknya selalu berpikir tentang “bagaimana caranya menjadi kaya raya  dan menemukan usaha mandiri” walhasil otaknya selalu tidak jauh dari ide berjualan celana dalam dan kaos kaki *ngakak deh*

Adam dan Nick, selain sebagai sahabat keduanya juga bermitra mengelola usaha mandiri yaitu situs porn [lol]. Usaha itu di kelola dengan sangat baik, memberikan layanan “member” untuk mengakses situs-situs porn mereka. Dengan ke anggotaan dari berbagai level, dan system yang berjalan baik jadilan mereka berdua kaya raya. (jujur aku baru tau system akses untuk web porn itu [lol])

Konflik terjadi ketika Nick yang  berwajah pas-pasan tapi selalu menjaga style nya (dari mobil ferari yg di banggakan sampai stelan-stelan Armani, etc) tiba-tiba membuat pengumuman akan menikahi pacarnya yang bernama Sandra. Bukan karena mau menikah dan meninggalkan Adam sebagai bujangan sendirian, tapi karena Adam selalu yakin bahwa Sandra ini tergila-gila padanya dan lebih dari sekali mengisyaratkan ketertarikannya pada Adam, oh ya Adam ini sangat ganteng, pokoknya kek model-model gitu tampang maupun badannya. Dan yang paling Adam yakini, buku favorit Sandra adalah buku Cek, jadi bisa di pastikan Sandra hanya memanfaatkan kekayaan Nick bukan benar-benar karena cinta.

Adam hanya ingin agar Nick sadar dan membuka mata, siapa itu sebenarnya Sandra. Maka di mulailah ide-ide gila Adam dalam rangka “membuka mata Nick” (kocak abis deh). Dalam rangka usaha Adam tersebut, Adam berkenalan dengan seorang perempuan bernama Charlie (Charlotte). Aturan nomor sekian dalam hal berkencan buatan Adam “dia tidak mau berkencan dengan perempuan yang namanya bisa di singkat menjadi nama laki-laki”, misalnya “Samantha”  yg nick name nya menjadi “Sam”. Menurut Adam, dia tidak mau pada saat Orgasm menriakkan nama“Sam”  karena berkesan dia bobo bareng cowo… “iii ngga banget “ kata Adam [lol]. Tapi Charlie? Bagi Adam dia adalah pengecualian, banyak sekali pantangan-pantangan yang dia langgar ketika berkencan dengan Charlie.

Masalah lebih komples ketika Nick mengajukan Adam sebagai Best Man nya ketika menikah nanti, dan di perparah dengan Charlie yang hamil. Adam bingung, satu hal yg dia selalu takuti yaitu “komitmen” di tambah kebingungan Adam yg tidak tahan menghadapi anak bayi (karena pasti akan jatuh, katanya). Masalah di perparah dengan Sandra yang ngajakin Adam bobo bareng dan ketauan Nick, padahal acara pernikahan mereka tinggal seminggu lagi. Seakan semuanya belum lengkap, setelah Nick meninju adam dia menghilang dan ferarinya di ketemukan di jurang keesokan harinya. Nick hilang dan Adam merasa bersalah, Charlie terlalu marah dan tidak mau mendengerkan penjelasan Adam gara-gara adam tidak bisa tegas. Saat itulah Adam menyadari satu hal yang paling penting dalam hidup… apa itu? Baca sendiri kelanjutannya ^_*

Genre novel ini adalah Guylit, aku pernah buat resensi ala kadarnya di Note FB ies-tea. Novel Guylit kedua yg kubaca setelah The Wedding Officer – Anthony Capella. Dua-duanya pinjeman dari tante den karena aku sendiri tidak koleksi chicklit maupun Guylit (bisa beneran bangkrut kl koleksi genre itu juga [lol). Menurutku buku ini menyegarkan, konteks CINTA dari sudut pandang seorang cowo, dialognya lucu dan cara berfikir yg bisa membuat terpingkal-pingkal atau terlalu rasionalis kl boleh di bilang. Pokoknya ngga nyesel bacanya… yipppiii…

Advertisements

6 Comments

  1. deendeen said,

    July 16, 2010 at 8:32 am

    ies.. guylit bagus2 kan.. trus ceritanya unforgotten. koleksi aja jeunk..
    suka ma novel ini so2 realistic.. mana ada tuh cinta berbunga2 lebay ala HQ-HR.. wkwkkwkw

    Ies : iya tanteeeee….. baca dua novel itu bener2 bikin ngakak kejer, atau paling engga pasti senyam-senyum geje.
    awww.. koleksi? ntar dulu..
    aku pinjem C Word nya dong 😛

  2. himitsume said,

    July 16, 2010 at 9:49 am

    Emang ada logo khusus guylit-nya? mau deh beli. aku seneng ama buku yang dilihat dari pov-nya cowok. 😀

    Ies : kaga adaaaa… kaga ada logonya, tp POV nya cowo.. lucu sangat ^_*

  3. mewylve said,

    July 16, 2010 at 10:04 am

    Wow.

    Reviewnya Ies padat dan jelas….

    Ies : hehehehe.. lebih komplit dr pada di FB bu 😛

  4. bethenglish said,

    July 21, 2010 at 4:32 am

    pantesan kek udeh pernah baca
    pernah di notes kan?
    yes! aku gak pikun!!

    ies : ho oh.. pernah di notes 😀

  5. shun said,

    July 27, 2010 at 7:02 am

    hehe

    kyknya pengen baca nih

    o ya

    hisashiburi da nee

    Ies : taka baca novelll?? ntar kendonya keteter lo hehehe
    apa itu artinya? ihiks

  6. Kristina said,

    March 31, 2012 at 4:31 pm

    Emang novel ini laen dari novel kebanyakan. Agak vulgar sih, tapi aku pribadi dapat satu gambaran tentang pola pikir cowok2 yang takut komitmen di luar sana. bukan cuma di luar negri, tapi’cowok2 yg tinggal di kota besar di sini juga gitu. Salut lah untuk Matt Dunn yg tetap menyampaikan kisah cinta tanpa perlu lebay ala Harlequinn.

    ies : iyeee.. aku suka banget sama ni novel karena ngambil POV nya cowo hmpfh.. otak mereka ternyata kwkwkw 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: