:: Kala Itu ::

Alhamdulillah, hari ke tiga di bulan Ramadhan. Happy fasting all :D. Sebelumnya aku minta maaf ya buat semua-semuanya, mungkin agak telat tapi kan ada pepatah mengatakan lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali hehehe. Bulan Ramadhan adalah bulan di mana semua pahala dilipat gandakan, sepertinya aku tidak perlu membahas ini lebih detail karena aku yakin temans semua pasti sudah tau lah. Ini tahun ke tigaku menjalankan puasa di kos-an, bener-bener ngga berasa banget ternyata aku sudah tua *cekakak*.

Semalam ketika sholat tarawih di masjid, ada anak kecil di sebelahku, dan membuatku teringat kejadian beberapa tahun lalu. kejadian yang membuatku menanggis tunggang-langgang keliling masjid. Kala itu, entah hari apa dan entah hari puasa ke berapa (aku tidak ingat pasti detail tanggalnya) kejadian bermula ketika masku sampai adzan isa berkumandang belum menunjukkan batang hidungnya di rumah (kami masih tinggal di Kebon Jeruk). Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk berangkat ke masjid (ambil wudhu, mengenakan muken dst), tiba-tiba Gilang (keponakanku) yang waktu itu masih berumur 3 atau 4 tahun merengek “is aku ikut ke sholat dong” saat itu aku hanya menjawab “ikut mama aja mas” (yeah, kami memanggil Gilang mas atau de’ kala itu) mbakku hanya menyahut “mama nungguin papa dulu, ntar papa nyusul ke masjid” (beda itu biasa, aku dan mas selalu sholat tarawih di masjid dengan 11 rakaat dan mba di tempat khusus perempuan dengan 23 rakaatnya).

Karena biasanya Gilang juga selalu ikut sholat papanya ke masjid, makan dengan entengnya aku meng “iya”kan keikutsertaannya. Lagi pula sepupu-sepupunya juga ke masjid yang sama dan janji masku akan nyusul ke masjid meringankan hatiku saat itu. well, semua berjalan mulus pada mulanya, dia tidak rewel dan ikut sholat sunah dua rakaat di sampingku, lengkap dengan baju koko, kopiah dan sajadah kecilnya. Dia juga tergolong anteng, tidak seperti anak-anak lain yang lari sana-lari sini atau nangis atau berisik, mungkin karena dia selalu menganggap dirinya lebih besar (nanti aku bahas di blog kapan-kapan deh tentang Gilang yang unik). Hatiku sudah dipenuhi dengan kebanggaan bisa menaklukkan Gilang, yeah semua juga tau aku sama Gilang lebih seperti adek-kakak dari pada keponakan-tante (entah aku yang seperti anak kecil atau Gilangnya yang terlalu dewasa sebelum waktunya [lol]).

Sholat isa dimulai, dia masih anteng mengikuti gerakan para jamaah yang lain. Aku juga tidak terlalu memperhatikan keberadaannya setelah itu tentu saja (masa iya sholat lirik-lirik sebelah :P). Hingga begitu salam kedua, pandanganku langsung mengarah kearah dia duduk di sebelah kiriku. Tempat itu kosong! Kuedarkan pandanganku ke sekeliling tempat anak perempuan. Ngga ada!!, aku masih berfikir dia ada di tempat sepupu-sepupunya (anak kecil biasanya sholat di teras depan) jadi aku masih sempat berdoa dst. Setelah sholat sunah 2 rakaat dan ceramah di mulai, Gilang masih belum menunjukkan batang hidungnya kepadaku. Aku keluar mencari para sepupunya, dan ternyata dia ngga ada!. Masih tetap dengan khusnudonku, aku lanjutkan pencarian ke kamar mandi, tetap ngga ada!, masih tetap berpositif thinking aku intip tempat anak cowo, berharap masku sudah nyusul dan Gilang itu papanya dan Ngga ada!

Agak mulai sedikit panik, aku jalan keliling masjid sampai tempat anak-anak kecil bermain petasan dan tetap tidak ada!. Panik mulai melandaku “bagaimana kalau ada peminjam dan Gilang dipinjam?” (cerita liliput muahahaha) atau lebih buruk lagi “ada jin usil yang menyerupai masku, terus Gilang ikut dia pergi” (sotoy otakku [lol]) dan yang paling buruk “dia di culik” well, bagaimanapun Gilang kan ganteng kali aja ada penculik yang suka dia (beneran deh saat itu pemikiran itu keluar begitu saja, mungkin gara2 kebanyakan baca novel :P). Indi, salah satu sepupunya waktu itu bilang “pulang kali mba” dan aku jawab “ngga mungkin deh ndi, dia kan takut gelap dan sandal nya masih ada” (jalan dari masjid sampai jalan raya agak sedikit minim penerangan dan Gil2 suka aku takut2in di situ muahahaha). Aku masih berpegang teguh bahwa Gilang ada di masjid, Cuma di mananya masih blm terlihat. Jadi aku ulangi sweeping untuk ke sekian kalinya.

Keringat mulai bercucuran dan sholat tarawih sudah akan segera dimulai, Gil2 masih ilang, ngga ketauan rimbanya,  bahkan tidak bisa kudeteksi dalam ke 7 plan (barty mode on [lol]). Akhirnya aku putuskan untuk pulang dan melapor pada atase, kalau beneran dipinjam setidaknya orang rumah harus tau, kalau ikut jin setidaknya mereka harus arak-arakan keliling kampung dgn penggorengan dan panci (ini kasus di culik kalong wewe kan? [hmpfh]) atau kalau beneran di culik mereka juga musti tau kali aja si penculik sudah mulai menelpon orang rumah. Dengan tekad bulat, keringat bercucuran dan mata yang mulai panas oleh air mata, (well, bagaimanapun aku sayang dia kan? Meski tiap hari selalu rebutan apapun.) aku pulang… tanpa dendam.. ku akui, kekalahankuuuuuwww…

Belum buka gerbang aku sudah teriak “Mba ada Gilang ngga?” trus langsung lari naik ke atas dan melihat mas dan mbakku di beranda atas sambil minum es buah. “Gilang pulang ngga?” tanyaku sambil ngos-ngosan. Mbakku menjawab “Loh, kan dia ikut sholat lo is?” . Aanaknya ngga ada” jawabku dan langsung merasa bersalah dan siap-siap mengungkapkan ke tiga argumenku di atas ketika dari belakang pintu kamar ada yang tertawa setan “muahahahahhaa” si kutu kupret Gilang surilang keluar dari persembunyiannya, di ikuti gelak tawa mas sama mbakku. Jengkeeeelll.. banget rasanya, padahal aku sudah siap-siap mengemukakan argumenku ternyata aku malah ditipu semuanya jadi aku hanya menjawab “najong dah semuanya” sambil mayun turun ke bawah.

Lepas mukena trus glundungan di depan tv, masku turun diikuti Gilang di belakangnya. “kok ngga balik ke masjid lagi sholat?” masku bertanya, aku yang masih jengkel sejengkel-jengkelnya hanya menjawab “gah, males!” dan kalian tau apa yg si Gil2 ucapkan? “yaa.. die ngambek pah” bayangkaaaaannn… gimana aku ngga geregetan pengen gigit-gigit tu anak coba kwkwkwkwkw.

Setiap mengingat ini aku pasti akan tersenyum sendiri, kadang ngakak malah…

Advertisements

4 Comments

  1. uly said,

    August 13, 2010 at 3:35 am

    keluarga yang aneh.. wakakakkkkk..

    Ies : gitu dah ul kwkwkwk

  2. beth said,

    August 13, 2010 at 2:31 pm

    harusnya hbs itu kamu ciumin Gil2 dg membabi buta ies…
    ahahaha
    *devilinside*

    ies : saat itu aku terlalu marah untuk bls dendam beth 😛

  3. August 16, 2010 at 11:45 am

    Buakakakak. Klo gitu, ancem aja lo gak mau nemenin dia lagi

    Ies : mana die perduli dgn ancaman itu 😦

  4. hanif said,

    September 3, 2010 at 10:17 pm

    Kompak banget ngerjainya ya…salut bisa buat iis manyun. Berapa cm ya manyunnya?

    Ies : hehehee.. bener banget, padahal aku baek hati gini.. mayun kan susah 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: